Sebuah Kisah Perjuangan Di Lembang

  Senang sekali rasanya setiap seminggu sekali saya punya kesempatan untuk ikut berpartisipasi ngeblog bareng teman-teman "Komunitas Blogger Bengkel Diri". Atau yang disebut dengan "Blog Walking". Masyaa Allah Tabarakallah. Saya sangat mengucapkan terima kasih kepada ummi Nunung Nurlaela selaku fasilitator kelas blogging di Bengkel Diri Level 2. Karena ummi nunung telah membuat saya dan teman-teman yang lain yang sama-sama menyukai dunia menulis untuk tetap terus bergerak dan produktif dalam menulis, juga untuk selalu menyempatkan waktu untuk menulis. Ini yang kedua kalinya saya ikut blog walking sejak saya tergabung di Komunitas Blogger Bengkel Diri. Hehehe. Yang akan saya tulis kali ini adalah tentang salah satu pengalaman saya waktu saya ngetrip di Lembang bersama teman SMP saya yang saat itu kita sama-sama merantau di Bandung. Sekarang sih sudah pada kembali ke kampung halaman masing-masing. Hehehe ... 
  Ceritanya awal tahun 2018, saya dan teman saya liburan ke Lembang. Ceela liburan, padahal pada saat itu kita tinggal di Bandung. 😂 Tujuannya yaitu "The Lodge Maribaya", karena kita sama-sama penasaran dengan pesona alamnya The Lodge Maribaya yang katanya begitu membuat mata terpana. Siapa sih yang tidak tertarik untuk berkunjung ke salah satu obyek wisata yang lagi hits di Bandung pada saat itu? Hehehe.
  Saya berangkat dari kosan jam setengah 7 pagi, sampai Kiaracondong jam 7an lebih. Saya menunggu teman saya di bawah jembatan fly over Kiaracondong. Karena kebetulan teman saya ngekosnya di daerah situ. Begitu teman saya datang, kita langsung berangkat. Kita berangkat naik motor dan berangkat sekitar jam setengah 8 pagi. Perjalanan dari Kiaracondong ke The Lodge Maribaya alhamdulillah berjalan dengan lancar dan sampai tempat tujuan dengan selamat. Waktu itu kita ke The Lodge akses jalannya via Dago Giri, ceritanya nyari jalan yang aman dari macet dan rute tercepat. Hehehe. Sampai di The Lodge jam 9 pagi kalau tidak salah sih. Begitu sampai di tempat tujuan, kita keliling-keling sambil foto-foto. Waktu itu saya naik wahana zip bike. Di loket tiket wahananya sih tidak antri, tapi di tempat tunggu wahananya lumayan antri. Karena waktu itu, kita datang kesana di hari weekend. Sementara saya naik zip bike, teman saya menunggu di bawah. Setelah saya sudah selesai naik wahana zip bike, kita keliling-keliling lagi dan setelah itu kita pulang. Kita keluar dari The Lodge sekitar jam setengah sebelas kurang.
  Karena keluar dari The Lodge, kita rasa hari masih siang dan kita juga merasa belum puas dan tidak begitu menikmati selama berada disana karena banyak orang, hehehe. Akhirnya kita sama-sama memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata lain yang lokasinya tidak jauh dari The Lodge. Nah yang tidak terlalu jauh dari The Lodge kan ada Taman Begonia dan Dago Dreampark ya, yang kita tahu sih dua tempat wisata tersebut. Namun dua tempat wisata tersebut tidak menjadi pilihan kita, karena kita sebelumnya sudah pernah berkunjung ke dua tempat tersebut. Di parkiran The Lodge, kita diam sejenak. Kita searching-searching di google tentang obyek wisata yang instagramable di Lembang. Tak lama, akhirnya kita menemukan tempat yang kata mang google sih masih belum banyak dikunjungi oleh banyak orang. Akhirnya tempat tersebut jadi pilihan kita untuk di kunjungi berikutnya, Hehehe. 
  Obyek wisata yang kita kunjungi berikutnya adalah "Orchid Forest Cikole Lembang". Sebelum gaspol, kita saling bertanya terlebih dahulu "tahu enggak Cikole itu dimana?". Dan ternyata, kita sama-sama tahu kalau Cikole itu Letaknya ada di Lembang yang arah ke jalan menuju Tangkuban Parahu. Memang benar lokasinya disitu, tapi yang jadi masalah pada saat itu adalah kita startnya dari The Lodge, nah kita bingung dong soal akses jalan menuju Orchid Forestnya lewat mana? Yang sekiranya jalannya tidak ekstrim dan rute tercepat lah ya. Hehehe. Walaupun bingung tapi kita tidak memakai GPS karena kebetulan saya mendadak ingat sewaktu saya hendak berkunjung ke Tangkuban Parahu, yang saya ingat jalannya itu melewati Taman Begonia. Akhirnya dari The Lodge kita mengarah ke jalan yang arah Dago. Pas di perempatan apa gitu ya, lupa lagi namanya. Hehehe. pokoknya dari situ kita belok kanan, Karena seingetku jalan menuju Begonia arahnya kesitu. Ketika kita sama-sama tengah asik menikmati perjalanan, saya gagal fokus pada tulisan Cikole ➡ yang tertera di papan penunjuk jalan. Di papan tersebut Cikole arahnya belok kanan, Saya ngomong ke teman saya kalau kita salah jalan. Teman saya iyain aja, akhirnya kita putar balik dong terus kita belok ke arah Gunung Putri kalau tidak salah sih namanya. Jalannya kecil kayak jalan setapak gitu, tapi masih bisa di lalui oleh sepeda motor. Dari situ kita menyusuri sawah, jalan berbatu, dan hutan belantara. Mana tempatnya sepi pula, mau nanya, nanya ke siapa? karena tidak ada orang satupun. Terus kita melewati jalan menanjak dan jalannya berbatu, samping kanan kiri hutan belantara. Oh rupanya kita tersesat di hutan. Hahaha. Dari situ kita bingung, kita kemana ini?, kita kemana? 😂 Tapi saya berusaha untuk terus mengikuti jalan yang ada, sampai tibalah kita di pemukiman penduduk. Entah saya tidak tahu daerah apa namanya, yang pasti saya merasa lega banget ketika menemukan pemukiman penduduk. Lega karena sudah bisa keluar dari hutan, hahaha. Disitu kita menemukan Masjid, berhubung waktu dzuhur telah tiba, kita shalat dzuhur di masjid itu. Selesai shalat dzuhur, teman saya buka GPS. Dia bilang masih jauh, terus dia mengusulkan untuk pakai GPS saja supaya cepat nyampe, aku iyain. Nah loh Kenapa enggak dari tadi aja ya? Belagu sih, sotau. Hahaha.
  Saya kira setelah pake GPS, kita tidak akan menemukan hutan belantara lagi. Ternyata eh ternyata, kita kembali di pertemukan dengan hutan belantara dan jalan berbatu. Saya fokus nyetir, sedangkan teman saya yang bonceng fokus melihat GPS sambil berkata lurus, belok kanan, sekian meter lagi belok kiri, sekian kilo meter lagi kita ketemu jalan raya jalan utama dan bla bla bla. Sudah serasa seperti petualangan Dora dan Boots, yakan? hahaha. Setelah menyusuri jalan berbatu, jalan berlubang dan kanan kiri jalan dikelilingi hutan belantara, akhirnya kita bertemu dengan jalan utama dan melihat banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan tersebut. Alhamdulillah rasanya benar-benar lega. Walau sudah menemukan jalan utama, kita tetap memakai GPS. Teman saya masih setia membuka GPS dan bersuara menunjukkan jalan mengikuti seperti apa yang ditunjukkan oleh GPS. Saya pikir setelah menemukan jalan raya, tidak lama lagi tujuan kita sampai. Ternyata masih lumayan jauh.
  Begitu teman saya berkata "kita melewati Grafika dulu, maju dikit terus "Orchid Forest". Begitu saya melihat tulisan Grafika Cikole Lembang yang tertera pada papan baligo, saya merasa senang. Yang membuat saya senang, karena tujuan kita sebentar lagi sampai. Hehehe.
  Sesampainya di Orchid Forest. Sebelum masuk kawasan wisatanya, ada petugas yang berjaga di loket tiket. Kita bayar tiket masuk disitu, tiket masuknya Rp. 30.000. Setelah membayar tiket masuk, aku pikir sudah sampai tempat tujuan.
Ternyata kita masih harus jalan lagi naik ke atas sampai nemu tempat parkir. Saat melihat banyak kendaraan yang terparkir di samping kanan jalan, saya sempat bingung "itu bukan ya?". Begitu teman saya berkata "iya benar disitu parkirnya". Langsung deh belok ke tempat parkir itu. Untuk parkir, kita bayar Rp. 3.000. Murah sih segitu mah. Hehehe.
  Kita masuk ke kawasan wisatanya. sebelum masuk ke kawasan wisatanya, terlebih dahulu kita cek tiket. Setelah cek tiket di loket pengecekan tiket, kita diberikan air mineral kemasan botol sama petugasnya. Alhamdulillah ya setelah nyasar di hutan, dapat air minum. Hehehe. Oh iya, baru di tempat pengecekan tiket aja, kita sudah dibuat terpana oleh bangunan pengecekan tiket Orchid Forest loh. Bangunannya Masyaa Allah keren sih. Kita foto-foto disitu tapi sekarang foto-fotonya sudah di telan oleh virus memory card, jadi pada lenyap tak bersisa satupun. Hehehe. Kita lanjut masuk keliling-keliling sambil foto-foto. Orchid Forest ini tempatnya Masyaa Allah banget, rasa lelah karena di perjalanan rasanya terbayar oleh pemandangan alam yang begitu cantik dan mempesona, serta hawanya yang sejuk dan rindang. Terus kita lanjut naik ke jembatan jaring, hehehe. Ini serasa tantangan buat kita. Di jembatan jaring, kita berjalan sambil foto-foto. Oh iya saya lupa, sebelum naik jembatan jaring itu kalau tidak salah sih kita bayar Rp. 15.000 untuk flying fox. Setelah dari situ, kita muter lagi keliling-keliling cari spot foto yang oke, tapi menurutku semua spot foto disini semuanya instagramable. Setelah puas foto-foto, kita baru naik flying fox. Setelah itu kita pulang.
  Perjalanan pulang dari Orchid Forest ke kota Bandung harapannya berjalan lancar, ternyata realitanya tak semulus jalanan yang baru di aspal. Hahaha. Saat sepeda motor yang saya kendarai melaju sampai di seberang Grafika Cikole Lembang, mulai turun hujan rintik-rintik. Semakin melaju, hujannya semakin deras. Karena hujan yang semakin deras, kita berhenti sejenak untuk memakai jas hujan. Setelah hujan sudah mulai reda, kita lanjut lagi. Masih dari daerah Cikole, perjalanan kita ditemani oleh hujan rintik-rintik. 
  Begitu memasuki jalan Setiabudhi, hujan turun lumayan deras lagi dan di jalan raya pun mulai ada genangan air. Semakin maju hujannya semakin deras, jalan raya perlahan-lahan penuh dengan genangan air, kontur jalannya menurun, dan macet pula. Walau pakai jas hujan, tapi kita tetap basah kuyup. Duh rasanya lengkap sudah ya. Wkwkwk. Dari Jalan Setiabudhi sampai Jalan Tamansari kita hujan-hujanan dan banjir-banjiran, untung motornya tidak mogok. hehehe. Tadinya kita punya rencana mau makan ramen di Jigoku Ramen yang lokasinya berada di Cikutra. Namun berhubung kita basah kuyup banget, jadi kita cancel makan ramennya dan memutuskan untuk langsung pulang saja.
  Tepat di seberang Baltos (Balubur Town Square), teman saya turun. Konon katanya dia mampir ke kosan temannya. Kemudian saya melanjutkan perjalanan pulang ke kosan saya di daerah Rancaekek, dan masih setia di temani oleh hujan deras dan jalan raya yang penuh dengan genangan air. Hehehe. Saya mengendarai sepeda motor di atas jalan yang penuh dengan genangan air, berakhir sampai di lampu merah Jalan Pahlawan. Setelah melewati lampu merah Jalan Pahlawan, ketika saya mulai masuk ke Jalan Jend. Ahmad Yani, sepeda motor yang saya kendarai jalannya sudah mulai kacau. Mungkin karena tadi di bawa banjir-banjiran dengan jarak yang lumayan jauh, tapi alhamdulillah sepeda motornya masih bisa di kompromi. Sehingga saya bisa sampai kosan dengan selamat, walau di sertai dengan berbagai kendala.
  Sekitar pukul 17.30 WIB, saya sampai kosan. Dengan demikian berakhirlah sudah perjuangan saya di hari itu.
  Oh iya, saya mau kasih tau sedikit info tentang budget ke The Lodge Maribaya dan Orchid Forest. 
  Yang pertama, The Lodge Maribaya dulu ya. Ke The Lodge Maribaya kalau kita tujuannya atau niatnya cuma mau foto-foto aja di spot foto yang gratis atau hanya untuk sekedar refreshing, tidak ada niat untuk naik wahana spot foto. Sepertinya budget dibawah 100rb, cukup. Tapi kalau tujuannya mau naik beberapa wahana, harus siapin budget yang lumayan ya. Karena semua wahana spot foto di The Lodge Maribaya berbayar mulai Rp.20.000-Rp.25.000an kalau tidak salah sih, dan untuk pengambilan filenya pun berbayar Rp. 10.000/file. 1 wahana sekitar 5X jepretan, kalau filenya mau di ambil semua berarti kita harus siapin dana Rp.60.000 untuk satu wahana. 
• Parkir Motor : Rp. 10.000
• Harga Tiket Masuk : Rp. 30.000
• Wahana Spot Foto : Per wahana mulai di bandrol dengan harga Rp. 20.000-25.000an
• Ambil file foto : Rp. 10.000/file
  Yang kedua, Orchid Forest. Ke Orchid Forest kalau kita tinggal di Kota atau Kabupaten Bandung, budget Rp. 100.000an Insyaa Allah cukup ya teman-teman.
• Harga Tiket Masuk : Rp. 30.000
• Parkir : Rp. 3.000
• Flying Fox : Rp. 15.000
   Menurutku baik The Lodge Maribaya maupun Orchid Forest, keduanya sama-sama memiliki pemandangan alam yang indah dan sama-sama recomended untuk di kunjungi. Namun bagi saya, Orchid Forest lebih recomended untuk di kunjungi. Alasannya karena tidak terlalu menguras isi dompet. Tempatnya luas, sejuk, dan rindang. Banyak pohon pinusnya.
  Yang saya tulis kali ini memang bukan tentang sebuah artikel yang Terinspirasi untuk Menginspirasi. Akan tetapi saya berharap mudah-mudahan ada pelajaran yang dapat di ambil dari apa yang saya share ini. Hehehe. Salah satunya, yakin dan percaya diri saja, kalau memang sudah tahu jalannya tidak perlu percaya pada yang lain. Dan kalau tidak tahu, jangan sungkan untuk bertanya. Karena ada istilah "Malu Bertanya, Sesat Di Jalan". Saya hanya ingin berbagi sedikit pengalaman saya, yang mana pengalaman tersebut adalah salah satu pengalaman yang berkesan dan tak terlupakan. Hehehe.
  Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman yang sudah berkunjung ke blog saya, dan terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca postingan saya di blog saya ini. Sampai jumpa di postingan berikutnya ya.. 

Komentar

  1. Wah, jadi pengen jalan-jalan ke Bandung mba. Tapi masih harus stay at home ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbaa.. kalau ngomongin soal tempat wisata dan kuliner di Bandung, memang tidak ada habisnyaa ... Hehehe

      Hapus
  2. Aku dari duluuu banget pen ke Bandung, namun kondisi tiap tahun mesti bongkar mesin dan ngangon bocah walah malah gagal wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga tahun depan terlaksana ke Bandung ya mba .. Aamiin

      Hapus
  3. Alam Bandung keren banget sekarang pindah ke Malang yg udh kyk Bandung. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahun ini aku mau ke Malang, tapi cancel gara2 ada coronces ...

      Hapus
  4. mbaa foto nya dong.. aq tu mau ke sana lom jadi-jadi
    hihihiihhi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fotonya di HP aku yang saat ini HPnya udah gabisa digunakan mba, mati total HPnya. Aku juga udah hapus semua foto2 pribadi yang pernah ku upload di medsos.. Hehehe. Aku kesana awal tahun 2018, Hapeku rusak mati total, pertengahan tahun 2018. Langsung di lem biru.. Hehehe

      Hapus
  5. Kangen banduung mba.. Kasih rekomendasi dong tempat wisata keren di bandung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak mba .. Tinggal pilih mau yang budget murah atau budget mahal. Taman2 kota yang gratis dan instagramable juga lumayan banyak. Cuma kena cash buat bayar parkir thok 2rb-3rban .. Hehehe

      Hapus
    2. Perjalanan yang paling berkesan itu memang ketika tersesat yaa mba
      Saya juga dulu pernah ke bdg berdua sama mama aja. Jalan2 ber modalkan angkot, sering banget tersesat 😅
      Tapi di situ pula lah seru ny perjalanan.

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya dan terima kasih sudah membaca.

Postingan populer dari blog ini

Liburan Yang Paling Berkesan Dan Menyenangkan

Pejuang Amplop Cokelat

Quality Time