Temanmu, Surga Nerakamu
Hallo apa kabar teman-teman blogger semuanya?. Semoga teman-teman selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT ya.. Aamiin. Untuk ngeblog bareng komunitas blogger Bengkel Diri atau Blog Walking di minggu ini, Insyaa Allah aku akan menulis tentang "Pertemanan". Hehehe.
Siapa sih yang tidak memiliki teman dalam hidupnya? Setiap orang pasti memiliki yang namanya teman dalam hidupnya kan? Teman yang seperti apa yang dimiliki oleh setiap orang? Tentu jawabannya bervariasi ya, karena setiap orang pasti memiliki jenis teman yang berbeda-beda. Hehehe. Pada Blog Walking kali ini, aku akan menulis tentang sebuah kisah perjalanan seseorang dalam dunia pertemanannya. Hehehe
Sebut saja namanya Aira, saat masih kecil Aira memiliki banyak teman bermain. Akan tetapi begitu Aira tumbuh remaja, teman-temannya di masa kecil dulu bukanlah teman-teman masa remajanya juga.
Dari SD kelas satu sampai kelas empat, Aira selalu duduk sebangku dengan tetangga belakang rumahnya dulu. Begitu naik ke kelas lima, teman sebangku Aira adalah teman Aira yang rumahnya bersebelahan dengan rumah nenek Aira. Naik ke kelas enam SD, Aira lupa teman sebangkunya dengan siapa?.
Memasuki kelas satu SMP, Aira duduk sebangku dengan murid laki-laki. Karena sekitar enam bulan setelah ajaran baru di mulai, ada anak baru di kelasnya. Dia seorang murid laki-laki pindahan dari SMP lain. Berhubung bangku di sebelah Aira kosong dan pada saat itu mata pelajaran Matematika sedang berlangsung, oleh karena itu guru Matematika yang sedang mengajar di kelasnya pada saat itu menyuruh anak baru tersebut untuk duduk di bangku sebelah Aira. Akan tetapi dia tidak mau duduk bersebelahan dengan murid perempuan, dia maunya duduk bersebelahan dengan murid laki-laki. Hingga pada akhirnya guru Matematika meminta salah satu murid laki-laki yang di kenal pintar di kelas Aira untuk pindah tempat duduk di bangku sebelah Aira, dan dia pun menuruti apa yang di perintahkan oleh gurunya. Setiap ada tugas kelompok, Aira selalu merasa kesulitan untuk mendapatkan kelompok. Namun walau demikian, pada akhirnya Aira mendapatkan kelompok juga. Naik ke kelas dua SMP, Aira duduk sebangku dengan teman sedesanya, dia adalah teman SD Aira. Saat itu dia berpikir kalau dia duduk sebangku dengan teman yang sesama murid perempuan, dia akan mudah untuk mendapatkan kelompok ketika ada tugas kelompok. Namun kenyataannya tidak demikian. Saat mata pelajaran Bahasa Indonesia, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelasnya adalah guru perempuan, Ibu Ina namanya. Saat itu, Ibu Ina memberikan tugas kelompok dan untuk kelompoknya menentukan sendiri. Disaat murid-murid yang lain pada sibuk saling menarik temannya untuk bergabung menjadi satu kelompok belajar. Aira hanya terdiam sambil tengok kanan kiri menyaksikan teman-teman sekelasnya yang sedang heboh menentukan kelompoknya masing-masing. Aira terdiam kebingungan mau masuk ke kelompok yang mana? Karena teman sebangkunya sudah masuk kelompok teman yang bangkunya di belakang dan di samping bangku Aira, dan katanya jumlah anggota kelompoknya sudah pas sesuai seperti yang diminta oleh Ibu Ina. Dan pada akhirnya Aira mengerjakan tugas sendirian di buku tulis. Naik ke kelas tiga SMP, Aira tidak memiliki teman sebangku. Bagi Aira tidak mengapa tidak ada teman sebangku, karena tujuan Aira datang ke sekolah adalah untuk belajar. Kalau di kelas satu dan dua, Aira selalu merasa kesulitan dalam hal mendapatkan kelompok belajar ketika di kasih tugas kelompok oleh guru mata pelajaran apapun dan untuk anggota kelompoknya menentukan sendiri. Di kelas tiga ini, ternyata berbeda dengan waktu Aira kelas satu dan dua. Di kelas tiga, walau tidak ada teman sebangku tapi Aira tidak merasa kesulitan dalam hal mendapatkan kelompok belajar. Mungkin karena jumlah muridnya yang pas. Selama SMP, Aira sering merasa kesulitan setiap kali ada tugas atau kegiatan yang di dalamnya ada perintah untuk membentuk kelompok. Baik dalam hal kegiatan di dalam kelas, maupun di luar kelas seperti kegiatan ekstrakurikuler ataupun yang lainnya. Tidak ada yang mau satu kelompok dengan Aira, mungkin karena malu. Karena Aira sering di bully oleh teman-teman di sekolahnya. Baik itu teman sekelasnya sendiri, teman yang berbeda kelas, bahkan kakak dan adik kelasnya juga.
Memasuki kelas satu SMA, Aira duduk sebangku dengan teman sedesanya. Kemudian di kelas satu SMA juga Aira mendapatkan teman baru yang bangkunya di depan dan di belakang bangku Aira. Di kelas satu SMA, Aira tidak pernah merasa kesulitan untuk mendapatkan kelompok belajar. Ya selama kelas satu SMA, aktivitasnya di sekolah berjalan dengan lancar. Alhamdulillah setidaknya ada kemajuan.
Naik ke kelas dua SMA Aira duduk sebangku dengan teman sekelas waktu kelas satu, semester satu berjalan dengan lancar. Namun ketika memasuki semester dua, Qodarullah ada suatu masalah yang menerpanya dan melibatkan teman sebangkunya yang bernama "Dena". Dalam masalah ini awalnya Aira akui, Aira yang membuat kesalahan dan yang membuat masalah itu terjadi. Awalnya hanya masalah kecil yang masih bisa di selesaikan secara baik-baik, namun karena Dena sangat kecewa pada Aira, tidak terima dengan kesalahan yang Aira buat dan dia sangat emosi, sangat marah pada Aira, sehingga dia tidak bisa di ajak untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara yang baik-baik. Hingga pada akhirnya masalah itu di ketahui oleh satu kelas, karena Dena melabrak Aira di dalam kelas dengan nada yang sangat keras. Dari satu kelas, merembet ke kelas yang lain. Dengan demikian masalah tersebut di ketahui oleh banyak siswa, hampir semua siswa kelas dua di semua kelas bahkan sebagian siswa kelas tiga pun tahu tentang masalah tersebut. Dan di saat yang bersamaan, ada orang yang diam-diam memanfaatkan keadaan. Dia melakukan suatu perbuatan (meneror via sms) yang membuat Dena bersama teman-teman satu genknya merasa terganggu dan terusik, karena kebetulan orang tersebut bukan hanya mengganggu Dena saja tapi juga mengganggu teman-teman satu genknya Dena. Mengganggu dengan cara yang sama seperti apa yang di lakukannya pada Dena. Dena beserta teman-temannya mengira kalau itu adalah Aira, padahal bukan. Ketika Dena dan teman satu genknya melabrak Aira, kalau Aira meneror Dena dan teman satu genknya, Aira sangat terkejut. Karena Aira tidak tahu apa-apa soal hal itu, Aira juga tidak merasa memiliki nomor HP tersebut, dan Aira tidak tahu siapa pemilik nomor HP tersebut. Aira berusaha membela dirinya, namun mereka tetap tidak percaya pada Aira dan mereka tetap menyalahkannya. Aira tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dia hanya bisa diam dan menangis di balik tasnya karena merasa sangat sakit hati atas tuduhan mereka kepadanya. Jangankan untuk percaya, ketika Aira berbicara membela dirinya pun mereka memotong pembicaraan Aira. Aira di fitnah habis-habisan oleh Dena dan teman-temannya karena salah paham. Mungkin mereka salah paham karena di awal Aira membuat kesalahan pada Dena berupa kesalahan tentang kebohongan dan penipuan, walau pada akhirnya Aira mengakui kesalahannya dan mengembalikan uang yang di dapat dari hasil tindakan penipuannya terhadap Dena. Dengan demikian tidak ada lagi orang yang mempercayainya, sekalipun dia benar. Setelah itu Aira bertaubat dan berjanji pada dirinya sendiri, kalau dia tidak akan mengulangi kesalahannya lagi. Karena kesalahan yang telah dia buat kepada Dena dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Atas kesalahan yang di lakukannya pada Dena saat itu, Aira terpaksa melakukannya. Karena Aira merasa butuh kasih sayang dan perhatian, Aira ingin merasakan seperti apa yang di rasakan oleh orang lain. Aira kurang di perhatikan oleh orang tuanya, Aira anak yang broken home.
Kalau Dena yang menyakiti Aira dengan cara membullynya dan pernah menaburkan potongan penggaris yang telah dipatahkan oleh Dena di atas kepalanya Aira, Aira masih bisa terima itu. Karena Aira pernah merasa bersalah pada Dena. Sekalipun Aira sudah meminta maaf berkali-kali pada Dena, namun Dena tidak bisa memaafkannya. Bagi Aira tak mengapa. Akan tetapi dengan perlakuan teman-teman satu genknya Dena yang ikut serta membully Aira di depan banyak siswa setiap hari tiada henti, Aira tidak bisa terima. Walau begitu Aira tidak bisa berbuat apa-apa, Aira tidak mau membalasnya, Aira hanya berusaha untuk bisa memaafkannya. Sejak saat itulah, masalah yang awalnya hanya masalah kecil berubah menjadi masalah yang besar. Semakin hari, Dena semakin menunjukkan kalau dia tidak bisa memaafkan kesalahan Aira dan dia seperti menyimpan rasa dendam pada Aira. Semakin hari Dena semakin menunjukkan kebenciannya pada Aira.
Aira yang awalnya tidak pernah merasa kesulitan dalam hal mendapatkan kelompok belajar selama kelas satu SMA dan selama semester satu berjalan di kelas dua, namun sejak setelah kejadian itu Aira kembali merasa kesulitan dalam hal mendapatkan kelompok belajar ketika ada guru yang memberikan tugas kelompok dan kelompoknya menentukan sendiri. Naik ke kelas tiga SMA, Aira duduk sebangku dengan salah satu teman sekelas sewaktu kelas dua SMA yang bernama "Risa". Tapi ini hanya di awal-awalnya saja, kesana-kesananya Risa sering pindah-pindah tempat duduk. Dengan demikian Aira lebih sering duduk sendirian. Di kelas tiga ini, Aira semakin merasa kesulitan dalam hal mendapatkan kelompok belajar ketika ada guru mata pelajaran yang memberikan tugas kelompok dan kelompoknya menentukan sendiri. Dengan demikian, Aira selalu mengerjakan tugas sendiri. Judulnya tugas kelompok, tapi Aira mengerjakan tugasnya sendirian. Bahkan saat ujian praktek mata pelajaran Seni Budaya pun Aira tidak mendapatkan kelompok, karena tidak ada yang mau satu kelompok dengannya. Aira merasa sedih dan galau memikirkan dirinya lulus atau tidak? Tapi Aira tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah ujian praktek Seni Budaya selesai di laksanakan, Aira bertanya pada guru mata pelajaran Seni Budaya. Tugas apa yang harus Aira kerjakan? Karena Aira tidak bisa mengerjakan tugas kelompok dikarenakan dia tidak memiliki kelompok. Kemudian guru Seni Budaya memberikan tugas praktek untuk Aira, yaitu membuat miniatur dari bahan-bahan yang bisa di daur ulang. Saat itu Aira membuat miniatur stasiun dari kardus bekas.
Masa sekolah Aira dari SD sampai SMA, hanya sedikit yang benar-benar mau berteman dengan Aira tanpa memandang siapa dan bagaimana Aira. Tidak ada lima orang, tapi Aira bersyukur karena mereka mau berteman dengannya, menerima Aira apa adanya sebagai temannya. Walau tahu keburukan Aira dan walaupun tahu Aira pernah melakukan kesalahan, tapi mereka tidak pernah meninggalkan Aira. Di saat orang lain merasa gengsi berteman dan bergaul dengan Aira, ada tiga orang yang mau berteman dengannya dan mendukungnya. Masyaa Allah Tabarakallah.
Setelah lulus SMA, Aira memutuskan untuk lanjut bekerja saja. Sebetulnya Aira ingin sekali lanjut kuliah, tapi Aira takut kalau dalam dunia perkuliahan pun akan sama seperti dunia sekolah yang dia rasakan selama dirinya duduk di bangku sekolah dari SD sampai SMA. Akhirnya Aira memutuskan untuk bekerja saja. Setelah lulus SMA, Aira bekerja di daerah Cilegon, Banten. Disana Aira menemukan teman-teman baru, ada beberapa yang dekat dengannya. Mereka tidak pandang bulu dalam berteman dan bergaul. Aira bekerja disana, cuma satu tahun kurang. Namun walaupun Aira sudah berhenti kerja, tapi Aira masih menjalin komunikasi dengan teman-temannya via media elektronik.
Setelah berhenti kerja di Cilegon, Banten. Aira bekerja di daerah Bekasi, Jawa Barat. Di Bekasi, Aira menemukan banyak teman baru. Baik teman sesama rekan kerja di pabrik, maupun teman di luar pabrik.
Waktu awal-awal Aira baru di Bekasi, setiap hari libur Aira selalu jalan bareng teman-teman di luar pabrik. Aira kenal mereka dari sebuah grup BBM dan Facebook fanbase artis. Setiap Aira jalan dengan salah satu dari mereka, Aira selalu lupa waktu. Aira sering main pulang tengah malam karena kebawa-bawa temannya yang bernama "Ocha". Pulang tengah malam? Main kemana? Mainnya sih nonton konser. Setiap ada artis yang di idolakan Aira atau yang di idolakan Ocha manggung di sekitar daerah Bekasi dan Jakarta, Ocha selalu mengajaknya nonton. Dan Aira selalu menerima ajakan Ocha. Ocha kalau sudah nonton artis idolanya selalu rela pulang malam sampai konser beres. Dan kalau nontonnya sama Aira, otomatis Aira juga ikut kebawa-bawa jadi pulang malam. Setiap main pulang malam, Ocha selalu numpang nginap di kosan Aira. Selama tahun 2014-2015 Aira sering sekali pergi main sampai larut malam. (Mohon untuk tidak ditiru). Nakalnya Aira pada saat itu, hanya sering rela bela-belain nonton konser artis idola hingga larut malam. Walau hanya nonton konser bersama teman perempuan juga, tetap itu tidak baik ya kalau sampai membuat kita lupa waktu.
Lama kelamaan Aira menyadari, kalau dirinya selama ini salah bergaul. Hingga pada akhirnya Aira perlahan-lahan menjauh dari Ocha yang suka mengajaknya main hingga larut malam, tapi Aira tidak menunjukkannya pada Ocha. Sejak saat itu, setiap kali Ocha mengajaknya untuk main dan jamnya sore, Aira selalu menolak dengan baik. Alhamdulillah Aira mendapat hidayah.
Dari awal tahun 2016, Aira sudah tidak lagi main sampai larut malam. Saat itu Aira masih suka pergi main di setiap libur kerja, tapi mainnya cukup sampai sore saja. Karena pada saat itu Aira sudah tidak pernah lagi bertemu dan berkomunikasi dengan Ocha yang suka mengajaknya main hingga larut malam, ceritanya Aira dan Ocha lost contact. Di tahun 2016 sampai pertengahan tahun 2017 Aira sering bergaul dengan teman dari luar pabrik juga dan dia sama teman ketemu di fanbase artis juga, tapi yang ini better. Sebut saja namanya "Mawar". Dia tidak pernah mengajaknya main sampai larut malam. Setiap Aira pergi main bersama Mawar, mainnya tidak jauh-jauh dari pusat perbelanjaan di Kota Jakarta, dan kulineran di Kota Jakarta.
Akhir tahun 2017, di tempat kerja Aira ada anak baru yang masuk. Dia namanya "Desti". Kebetulan atasannya menempatkan Desti satu tugas dengannya. Dengan seiring berjalannya waktu, karena Aira dan Desti sering kerja bareng, hubungan pertemanan mereka pun menjadi lebih dekat dan lebih akrab. Desti asli orang Bekasi, sedangkan Aira asli Cirebon yang merantau di Bekasi. Tidak hanya saat berada di dalam lingkungan tempat kerja saja Aira dan Desti sering bareng, tapi di luar lingkungan tempat kerja pun Aira dan Desti sering jalan bareng. Oleh karena itu mereka di panggil "Dora dan Boots" oleh teman-teman kerjanya. Entah apa maksudnya?, tapi mereka happy-happy saja. Selama Aira berteman dan bergaul dengan Desti, Desti tidak pernah mengajaknya untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Setiap hang out bareng, Desti tidak pernah mengajaknya pulang hingga larut malam. Karena Desti adalah anak yang baik.
Di pertengahan tahun 2019, hubungan pertemanan antara Aira dan Mawar yang sempat senggang dan lost contact. Karena sebelum Aira menjauh dari Mawar, Aira sangat merasa kecewa pada Mawar. Yang membuatnya kecewa adalah Aira merasa di manfaatkan dan sering di bodohi oleh Mawar. Bukan hanya itu, tapi juga karena Aira merasa kesal melihat postingan-postingan di akun media sosial milik Mawar yang isinya kebanyakan menyindir Aira. Namun Aira tidak pernah berkata demikian pada Mawar, dia hanya berusaha diam-diam menjauh dari Mawar. Setelah satu setengah tahun Aira berhasil menjauh dari Mawar, Mawar berusaha untuk kembali mendekatinya dan Aira pun menerima Mawar kembali di kehidupan pertemanannya. Karena Aira merasa kali ini Mawar sudah berubah menjadi lebih baik dan Aira yakin Mawar tidak akan memanfaatkan atau membodohinya lagi.
Awal pertama kali Mawar mendekati Aira kembali adalah Mawar mengajak Aira liburan bareng ke Bali saat Aira cuti kerja nanti. Aira menerima ajakan Mawar, dan akhirnya mereka pun pergi liburan bareng ke Bali di pertengahan tahun 2019.
Dua bulan setelah mereka liburan ke Bali, Mawar kembali mengajak Aira untuk merencanakan liburan lagi pada akhir tahun 2019, dia merancanakan liburan ke Gunung Bromo. Aira menerima ajakan Mawar, karena Aira sangat berekspektasi untuk liburan ke Gunung Bromo, dia ingin sekali liburan kesana setelah dia membaca novel yang berjudul "5 CM". Padahal di dalam novel tersebut, latar tempat yang di ceritakannya adalah Gunung Semeru. Entah apa yang membuat Aira begitu tertarik untuk mengunjungi Gunung Bromo? Mungkin karena lokasinya sama-sama di Jawa Timur dan dua gunung tersebut letaknya berdekatan.
Setelah Aira dan Mawar sudah matang merencanakan liburan ke Gunung Bromo dan mereka sepakat untuk memakai jasa Open Trip, dengan tujuan supaya tidak ribet naik turun transportasi umum. Mawar mengajak Aira untuk segera transfer uang DP ke pihak jasa open trip, dengan maksud supaya tidak kehabisan seat atau kuota. Karena kebetulan jasa open trip yang akan mereka pakai banyak peminatnya, karena trusted. Namun satu minggu setelah mereka transfer uang DP sebesar Rp. 200.000 ke jasa open trip tersebut, Mawar ingin membatalkan begitu saja. Tentu Aira sangat kecewa, karena Mawar yang begitu semangat dan mengajak buru-buru transfer, tiba-tiba membatalkannya begitu saja. Karena bagi Aira uang Rp. 200.000 itu bukan uang yang di dapat dengan mudah, akan tetapi ada perjuangan untuk mendapatkannya. Dan pada akhirnya mereka benar-benar membatalkan liburan ke Gunung Bromo, dan otomatis mereka juga batal memakai jasa open trip yang sudah mereka booking. Dengan demikian mereka harus merelakan uang Rp. 200.000 melayang begitu saja, karena tidak bisa di refund. Walau sebetulnya Aira belum bisa ikhlas melepas uang tersebut, tapi bagi Aira tidak mengapa. Aira tidak bisa berbuat apa-apa, karena Mawar yang memesan dan mengurus semuanya, Aira tinggal tahu beresnya saja. Aira kembali merasa kecewa pada Mawar karena hal itu.
Di tengah Aira masih merasa kecewa pada Mawar, namun tidak menunjukkan kekecewaannya di depan Mawar. Mawar kembali mengajak Aira liburan ke Malang. Aira menerima ajakan Mawar, karena dia masih berekspektasi liburan ke Gunung Bromo. Ketika Aira bercerita pada temannya yang bernama "Zia", kalau dirinya akan berangkat liburan ke Malang bersama temannya yang bernama Mawar. Zia menawarkan penginapan dan tiket kereta gratis pulang pergi pada Aira, dengan syarat Aira mau membantu Zia untuk ikut andil dalam menyiapkan segala sesuatu yang harus di persiapkan untuk hari pernikahannya Zia. Zia meminta Aira untuk memesan sekian ratus pcs undangan di tempat percetakan yang ada di daerah Bekasi yang lokasinya dekat dengan kosan Aira, Aira menerima tawaran Zia dan mampu menyelesaikannya dengan baik. Setelah Aira berhasil memenuhi permintaan Zia, Zia memberikan imbalan berupa penginapan dan tiket kereta pulang pergi gratis kepada Aira. Aira dengan senang hati menerimanya. Namun setelah penginapan dan tiket kereta pulang pergi sudah di pesan serta Aira sudah mebayar uang DP ke jasa Open Trip yang berlokasi di Malang, pemerintah Indonesia menetapkan status Gawat Darurat Covid-19 dan ada himbauan untuk tidak pergi keluar kota dulu untuk sementara waktu. Kemudian setelah itu semua akses jalan dan tempat-tempat umum yang menjadi jalur keluar masuk kendaraan dari dan ke luar kota, seperti Terminal, Stasiun, Pelabuhan, dan Bandara, di tutup semua untuk sementara waktu sampai waktu yang belum di tentukan. Dengan demikian, walau persiapan sudah matang, tapi rencana liburan ke Gunung Bromo gagal lagi. Aira merasa kecewa, tapi baginya tidak mengapa. Mungkin Allah belum meridhoinya untuk liburan ke Gunung Bromo. Walau gagal dan mengcancel semuanya, uang DP yang sudah dibayarkan kepada jasa open trip, di refund full oleh pihak jasa open tripnya. Uang tiket kereta pulang pergi pun masing-masing di refund 25%, dan uang penginapan yang sudah di bayarkan di refund full 100%.
Aira masih merasa kecewa pada Mawar karena perihal pembatalan jasa open trip yang pertama dan uang DP yang tidak bisa di refund atau hangus, tapi Aira berusaha untuk menyembunyikannya. Yang membuat Aira kecewa, karena saat itu Mawar terlalu terburu-buru mengajak Aira untuk segera membayar DP ke jasa open trip yang pertama. Airanya juga salah sih, kenapa ikut mengambil keputusan dengan mengiyakan.
Beberapa kali Mawar mengajaknya liburan keluar kota lagi setelah era New Normal, namun Aira menolaknya dengan alasan sedang tidak punya uang dan sebagainya. Untuk saat ini Aira memutuskan tidak ingin kemana-mana dulu, karena situasinya masih dalam masa pandemi. Di masa pandemi, Aira berusaha untuk mengelola keuangannya dengan baik. Karena untuk mendapatkan selembar uang di masa pandemi tidaklah mudah, penuh perjuangan dan pengorbanan untuk mendapatkannya.
Walau beberapa kali Aira merasa di kecewakan oleh Mawar, namun Aira mengucapkan terima kasih pada Mawar. Karena Mawar pernah merangkulnya ke dalam hal kebaikan. Ya, setidaknya Mawar pernah membuat hidup Aira jadi lebih baik dan lebih terarah. Aira merasa hidupnya lebih baik dan lebih terarah setelah Aira bergabung di salah satu "organisasi keislaman dan setelah dirinya mengikuti kelas sekolah pengembangan diri yang berbasis keislaman". Aira bisa tahu tentang organisasi yang di ikutinya karena Mawar. Dan Aira bisa tahu tentang sekolah pengembangan diri berbasis keislaman juga karena Mawar. Ya, tepatnya di awal tahun 2020, Mawar pernah mengajak Aira untuk hadir di Acara Seminar yang di selenggarakan oleh salah satu komunitas dakwah di Bekasi. Di acara tersebut, narasumbernya ada empat. Satu diantaranya adalah Founder dari organisasi yang saat ini di ikuti oleh Aira, Mawar pun sama terlibat di dalam organisasi tersebut. Dan satu diantaranya juga adalah Kepala Sekolah atau Founder dari sekolah pengembangan diri berbasis keislaman yang Aira ikuti saat ini.
Di pertengahan tahun 2020, Aira di pertemukan kembali dengan salah satu teman SDnya yang bernama "Elisa". Padahal selama ini dari SD sampai lulus SMA bahkan sampai usia mereka sama-sama sudah menginjak kepala 2, mereka tidak pernah dekat dan akrab. Ya, hanya sebatas kenal saja. Akan tetapi di pertengahan tahun 2020 ini, mereka kembali di pertemukan karena kebetulan mereka memiliki visi yang sama.
Setiap orang pasti memiliki tipe teman yang beraneka ragam. Diantara teman-teman yang kita miliki, pasti ada tipe teman yang suka mengajak untuk menghabiskan uang, dan ada juga tipe teman yang suka mengajak untuk menghasilkan uang. Diantara teman-teman yang kita miliki, pasti ada tipe teman yang mengajak kita dalam hal kebaikan, ada juga tipe teman yang mendorong kita kedalam jurang kemaksiatan. Tinggal kitanya saja, mau memilih bergaul dengan tipe teman yang seperti apa? Karena teman bisa berpengaruh pada baik buruknya kepribadian kita dan kualitas diri kita. Temanmu, Surga Nerakamu
Kebiasaan mengkambing hitamkan orang lain hanya akan mengotori hati dan pikiran kita sendiri. Membuat banyak noda yang membuat kita terhalang dari kebaikan hati dan kejernihan pikir, membuat setan semakin mudah membisikkan ide-ide buruk di benak kita, dan kita jadi terhalang mendapat pahala amal shalih.
Kisah yang aku tulis di atas adalah merupakan pengalaman pribadi. Nama, tempat, dan waktu dalam kisah tersebut hanya samaran. Mohon maaf apabila ada kesamaan cerita, nama, waktu, dan tempat dalam kisah yang aku tulis di atas. Sampai jumpa di postingan berikutnya ya.
Aku sedih bacaa tentang pembullyan begini.. Apapun bentuknya jika terjadi bullying atau kesulitan belajar bs dibicarakan dgn ortu atau saudara, agar stop disitu. Jangan sampai terjadi berkelanjutan karena bisa menimbulkan trauma psikis pada korban.
BalasHapusIyaa betul mbaa ..
Hapusklo ada temen2 disini yg jd pengajar.. mungkin bisa ambil hikmah dr kejadian ini.. terkadang membuat murid2 menentukan kelompoknya sendiri malah bisa menimbulkan kelompok2 yg tidak membaur..
BalasHapusd
Setuju banget ini ..
HapusBener banget mba. Mangkanya kita harus memilih teman yang benar-benar mempengaruhi kearah yang lebih baik ya.
BalasHapusTeman adalah cerminan diri kita ya mba.
Iyaa betuuul mba ..
HapusSebagai guru, bullying ini salah satu hal yg paling aku perhatikan. Aku ga mau ada siswa yg jadi korban maupun pelaku bully. Jadi kalo di dalam kelas aku benar-benar perhatiin interaksi mereka
BalasHapusJdi inget jaman sd dlu jga sring ada kejadian macam ini, dan jaman dlu orang2 ga se aware skrg ttg bullying
BalasHapusEmang harus pintar-pintar mencari teman mba, agar tak salah pergaulan dan bisa mendapat teman yang membawa pada kebaikan.
BalasHapus