Liburan Yang Paling Berkesan Dan Menyenangkan

  Blog Walking atau ngeblog bareng Komunitas Blogger Bengkel Diri bulan ini, mengusung tema tentang "Liburan". Wah temanya bikin semangat ya. Hehehe..
  Semua orang pasti butuh yang namanya liburan, apalagi bagi orang-orang yang aktivitasnya padat, seperti tidak ada waktu luang. Tujuan liburan bagi setiap orang tentunya berbeda-beda ya. Kalau bagi aku sendiri sih, tujuan liburan itu untuk merefresh otak, menghirup udara segar, membahagiakan diri sendiri, dan anggap saja kasih reward untuk diri sendiri. Hehehe. (Banyak banget ya).
  Dulu waktu masih kerja di pabrik, setiap hari libur rasanya selalu ingin hang out ke tempat-tempat wisata alam atau ke mall, hanya untuk sekedar cuci mata dan menghilangkan penat. Namun seringkalinya mager, dan ujung-ujungnya diam saja di kosan di temani oleh program-program dangdut yang sedang mengudara di radio-radio hits yang ada di Bandung. Eh kok jadi ngomongin radio sih, hehehe.
  Tahun lalu, aku pernah liburan ke salah satu kota yang terkenal di Indonesia. Masih di Pulau Jawa sih, dan masih lumayan dekat juga dari Bandung. Hehehe. Karena liburanku pada saat itu sangat berkesan dan sangat menyenangkan, jadi aku mau sharing tentang liburanku tahun lalu ke beberapa tempat obyek wisata yang aku kunjungi pada saat itu. Ya, obyek-obyek wisata yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga para travellers.
  Tepatnya di bulan Agustus 2019, aku dan temanku liburan ke Yogyakarta. Sebetulnya waktu SMA kelas dua, aku juga pernah ke Yogyakarta (Jogja) dalam rangka Study Tour SMA. Akan tetapi pada saat itu aku tidak begitu menikmati, karena terganggu oleh tugas mata pelajaran Bahasa Inggris dan tugas mata pelajaran Sejarah. Tugas mata pelajaran Bahasa Inggris, yaitu mewawancarai turis dengan menggunakan Bahasa Inggris, kemudian berfoto dengan turis. Sedangkan tugas mata pelajaran sejarah adalah di suruh untuk melakukan observasi mencari tahu tentang info sejarah Candi Prambanan dan Museum Sangiran. Oh iya, Museum Sangiran ini lokasinya bukan di Jogja ya, tapi seingatku lokasinya di Sragen, Jawa Tengah. Dengan demikian, setelah lulus SMA aku ingin kembali liburan ke Jogja, mengunjungi tempat-tempat keren di Jogja tanpa ada embel-embel tugas apapun. Hehehe.
  Tanggal 14 Agustus 2019. Jam enam pagi, aku baru pulang kerja shift malam. Di hari itu adalah hari pertamaku cuti tahunan. Berhubung ba'da dzuhur aku ada rencana akan berangkat liburan ke Jogja bersama temanku, jadi pulang kerja shift malam setelah sarapan aku langsung tidur. Ekspektasi aku di hari itu adalah aku bisa tidur nyenyak dari pagi sampai waktu dzuhur tiba, aku ingin bangun di waktu dzuhur. Namun realitanya, dari pagi sampai waktu dzuhur tiba, aku hanya bisa tidur dua jam saja. Rasanya susah sekali ingin tidur nyenyak. Entah karena apa? Namun pada dasarnya selama kerja di Bandung, aku paling susah dengan yang namanya tidur siang atau tidur pagi.
  Jam dua siang aku berangkat dari kosanku di daerah Cipasir, Rancaekek menuju Stasiun Cicalengka. Dari Rancaekek aku naik angkot jurusan Cileunyi-Cicalengka, kemudian aku turun di depan gang Stasiun Cicalengka. Setelah turun dari angkot, aku berjalan memasuki gang dan menyusuri jalan gang yang tidak lebar.
  Jam dua siang lebih dua puluh menit, aku baru sampai di Stasiun Cicalengka. Ketika sampai di Stasiun, aku langsung menuju ke loket tiket untuk membeli tiket kereta lokal Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang. Setelah membeli tiket, aku menunggu di kursi tunggu, karena jadwal keberangkatan kereta lokalnya kurang lebih sekitar satu jam lagi. 
  Jam tiga sore, tiketku di cek oleh petugas. Kemudian aku berdiri di teras stasiun, menunggu kereta lokal Bandung Raya datang.
  Kereta lokal Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang telah tiba di Stasiun Cicalengka. Aku bersama penumpang yang lain saling berbondong-bondong memasuki gerbong. Aku memilih tempat duduk di dekat pintu toilet. Lima menit kemudian, keretanya berangkat. Saat itu di dalam kereta, penumpangnya tidak penuh.
  Pukul 16.12 WIB, kereta lokal Bandung Raya yang aku tumpangi telah tiba di Stasiun Kiaracondong. Aku turun di Stasiun Kiaracondong.
  Foto ini adalah foto tiket perjalananku menggunakan transportasi kereta lokal Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang pada saat itu.
  Dari Stasiun Kiaracondong, aku berjalan kaki sampai jalan raya. Kemudian aku nyeberang jalan, dan disitu aku order ojeg online. Saat itu aku order grab car, karena bawaanku lumayan rempong dan mumpung lagi ada saldo OVO. Jadi aku order grab car, bayarnya pakai OVO. Hehehe. Dan saat itu tarifnya Rp. 9.000.
  Dari sekitaran Stasiun Kiaracondong, aku naik grab car menuju pool bus Pahala Kencana yang terletak di Jalan Riau. Ya, aku dan temanku menggunakan transportasi bus untuk perjalanan kami menuju Jogja.
Bus Pahala Kencana yang kami gunakan. Sumber Gambar : hargatiket.net
  Pukul 18.00 WIB, bus Pahala Kencana yang kami tumpangi mulai berangkat. Busnya melewati jalur Cicaheum-Cibiru, kemudian di lanjut melewati jalur Cibiru-Cileunyi, kemudian melewati jalur Cileunyi-Jatinangor, lanjut melewati jalan raya Bandung-Garut. Ketika melewati jalur Bandung-Garut, aku sudah mulai terlelap tidur karena sebelum berangkat aku minum antimo terlebih dahulu. Padahal biasanya aku paling enggak bisa tidur di transportasi umum. Kalau naik transportasi umum jarak jauh terus tidur, rasanya sayang banget, tidak bisa melihat jalan dan tidak tahu jalan mana saja yang di lintasi. Namun pada saat itu, apa mau di kata, dari pagi aku kurang tidur. Di tambah malamnya melakukan perjalanan jauh. Jadi untuk mencegah ngedrop, sebelum berangkat aku minum antimo. Tujuannya bukan supaya enggak mabok perjalanan, tapi supaya bisa terlelap tidur dengan nyenyak. Supaya bisa istirahat. Hehehe.
  Aku terbangun dari tidurku, saat aku terbangun, aku menengok ke kanan. Melihat temanku juga sedang terlelap tidur. Tadinya sih aku mau nanya ke teman, kami sudah sampai mana? Berhubung temanku tidur, jadi aku buka google map. Namun sebelum aku buka google map, aku menengok ke samping kiri jalan. Di samping kiri jalan ada warung dan di atasnya tertera tulisan "Tasikmalaya". Oh rupanya baru nyampe Tasik. Setelah itu aku tidur lagi.
  Sepanjang perjalanan aku tidur melulu. Bangun, tidur. Bangun lagi, tidur lagi. Begitu terus. Mungkin karena lelah dan efek minum antimo. Hehehe.
  Pukul 23.00 WIB, bus yang kami tumpangi tiba di Ciamis. Busnya berhenti di salah satu Rumah Makan. Aku lupa nama Rumah Makannya. Aku pikir busnya istirahat dan hanya sopir serta kondektur bus saja yang makan, ternyata semua penumpang bus di suruh makan oleh kondektur bus. Aku dan temanku turun dari bus, penumpang yang lain juga pada turun. Aku dan temanku menuju toilet. Setelah dari toilet, aku ambil wudhu kemudian shalat isya di musholla yang telah di sediakan oleh Rumah Makan tersebut. Sementara aku shalat, temanku masuk duluan ke Rumah Makan. Selesai shalat, kondektur bus menghampiriku yang sedang memakai sepatu. Beliau bertanya "sudah makan belum neng?". Aku jawab "belum". Kemudian beliau menyuruhku untuk makan. Katanya gratis. Ya, tiket bus seharga Rp. 125.000 sudah termasuk makan malam. Lumayan sih, murah. Hehehe. Waktu itu aku dan temanku pesan tiketnya di aplikasi traveloka.
  Sekitar pukul 00.10 WIB, bus yang kami tumpangi kembali melanjutkan perjalanan. Ketika bus mulai berjalan kembali, aku dan temanku kembali tidur. Oh iya, di bus Pahala Kencana yang kami gunakan pada saat itu, fasilitasnya ada bantal dan selimut. Kalau aku sih waktu itu, karena aku bawa bantal leher, jadi bantal yang di sediakan oleh busnya, aku simpan di dekat jendela untuk aku bersandar ketika aku tidur. Hehehe.
  Pukul 03.30 WIB, bus yang kami tumpangi tiba di Kebumen. Busnya berhenti, karena ada bus Pahala Kencana yang lain yang mogok. Jadi sopir dan kondektur bus yang kami tumpangi, pada turun dari bus dan membantu bus Pahala Kencana yang mogok itu. Berhentinya lumayan lama sih. Jam empat pagi kurang sepuluh menit, penumpang dari bus yang mogok itu di pindahin ke bus kami. Karena kebetulan bus kami masih ada kursi yang kosong. Setelah penumpangnya di pindahin ke bus kami, aku pikir busnya akan langsung jalan lagi. Tapi, ternyata tidak demikian. Busnya masih bertahan berhenti dan sopir serta kondektur busnya kembali membantu bus yang mogok itu.
  Pukul 04.15 menit, bus yang kami tumpangi mulai melanjutkan perjalanan kembali. Mata kami berdua masih ngantuk. Padahal kami tidak ada niat untuk tidur lagi. Karena kami rasa sudah pagi, jadi tidak perlu tidur lagi. Namun tanpa kami sadari, kami kembali terlelap tidur hingga pagi menjelang.
  Pukul 05.30 WIB, kami berdua sama-sama terbangun dari tidur. Aku melihat ke samping kiriku, dari balik kaca jendela bus, aku melihat hari sudah terang. Menandakan pagi telah tiba. Kemudian aku bertanya pada temanku sudah sampai mana? Temanku menjawab sudah masuk Jawa Tengah mau menuju ke Magelang.
  Aku tidak tidur lagi, aku pakai sepatuku. Aku kira Magelangnya sudah dekat, ternyata masih jauh. Aku bertanya kembali pada temanku "Teh, ini kita sudah sampai di daerah apa?". Temanku menjawab "Purworejo, ini jalan mau ke Magelang". Aku bertanya kembali kepada temanku "Magelangnya masih jauh enggak dari sini?". Temanku menjawab "masih lumayan jauh". Aku terus melihat ke samping kiriku, aku menatapi kaca jendela bus. Aku melihat di samping kiri jalan banyak pepohonan. Rasanya sejuk sekali. Ketika aku melihat ke depan, hmm yang aku lihat antrian kendaraan yang padat merayap. Bus yang aku tumpangi juga jalannya merayap, karena jalannya macet. Aku bertanya kembali kepada temanku "Teh, Terminal Giwangan masih jauh enggak sih dari sini?". Tanyaku. Temanku menjawab "masih lah. Orang Magelangnya saja belum, Terminal Jombornya juga belum". Jawab temanku. Aku kembali menatapi kaca jendela bus, aku terus melihat ke samping kiri jalan.
   Tak terasa bus yang kami tumpangi sudah sampai di lampu merah Artos Mall Magelang. Di lampu merah, berhentinya agak lama. Ketika berhenti di lampu merah, dari balik kaca jendela bus, aku melihat pemandangan di lampu merah.
  Itulah pemandangan yang aku lihat di lampu merah Artos Mall Magelang. Hehehe. Para kambing-kambing yang ada di mobil pick up ini, satu kambing dengan kambing lainnya saling bersuara. Lumayan ada hiburan di saat lelah melanda. Hehehe
  Bus yang kami tumpangi kembali melaju dengan kecepatan rendah, karena kondisi jalannya yang masih padat merayap. Kemudian perlahan lahan bus yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan normal, karena kondisi jalannya yang sudah mulai lengang.
  Bus yang kami tumpangi telah sampai di Muntilan, Magelang. Di Muntilan, busnya berhenti sejenak karena ada penumpang yang turun. Aku buka HP, kemudian aku buka google maps. Aku lihat di google maps, dari Muntilan ke Terminal Giwangan Yogyakarta ternyata masih lumayan jauh. Aku mulai bete, karena sudah lebih dari 12 jam belum sampai tempat tujuan juga.
  Pukul 08.30 WIB, bus kami memasuki daerah Jombor. Walau rencana awalnya kami akan turun di Terminal Giwangan Yogyakarta, namun berhubung kami sudah merasa kelelahan dan jenuh berada di dalam bus dengan waktu yang lama, di tambah lagi kaki kami pun mulai terasa pegal. Jadi kami memutuskan untuk turun di Terminal Jombor saja. Sekitar tiga menit lagi menuju Terminal Jombor, kondektur bus berkata "Jombor.. Jombor.. Jombor,. Ada Jombor ada..". Aku dan temanku serempak menjawab "Ada pa". 
  Bus yang kami tumpangi telah tiba di Terminal Jombor, kemudian memasuki area Terminal, lalu busnya berhenti. Dan kami pun turun dari bus. Alhamdulillah akhirnya turun dari bus juga. Prediksi waktu sampai di Terminal Giwangan adalah jam setengah enam pagi, tapi realitanya jam setengah sembilan pagi baru sampai di Terminal Jombor. Perjalanan Bandung-Jogja naik bus makan waktu kurang lebih 15 jam, luar biasa sekali. Waktu tempuhnya hampir sama dengan perjalanan Bandung-Malang dengan menggunakan kereta api. Bandung-Malang, kalau naik kereta waktu tempuhnya kurang lebih 16 jam. Sedangkan Bandung-Jogja kalau naik kereta, waktu tempuhnya kurang lebih 8 jam.
Sumber Gambar : eksotisjogja.com
  Begitu sampai di Terminal Jombor, kami bergegas menuju toilet. Kemudian kami menuju musholla. Kami istirahat sejenak di musholla Terminal Jombor selama dua puluh menit. Setelah itu kami berdua berjalan kaki menyusuri trotoar sambil membawa gembolan. Keluar dari Terminal Jombor, kami berencana akan memesan grab bike untuk menuju kawasan jalan Sosrowijayan. Akan tetapi kami bingung mengambil titik lokasi penjemputannya dimana? Dan akhirnya kami berdua berjalan kaki menuju pos polisi yang tidak jauh dari Terminal Jombor. Kami sepakat untuk memesan grab bike dari situ, karena kami rasa kalau dekat dengan pos polisi, Insyaa Allah aman dari tindak kejahatan. Hehehe.
Sumber Gambar : solopos.com
  Salah satu driver grab bike yang kami pesan telah datang. Yang pertama kali datang adalah driver grab orderanku. Sebelum berangkat, aku ngomong terlebih dahulu ke driver grabnya. "Mas, jangan dulu berangkat ya, nungguin driver yang di pesan oleh temanku datang dulu. Biar kami berangkat dan sampai tempat tujuannya secara bersamaan". Kataku. Kemudian driver grab yang aku order mengiyakan.
  Driver grab yang di pesan oleh temanku telah datang. Kami pun mulai berangkat menuju kawasan Sosrowijayan secara bersamaan.
  Sekitar jam setengah sepuluh pagi kurang sepuluh menit, kami telah tiba di depan gang Sosrowijayan. Masing-masing dari kami turun dari sepeda motor. Kami sama-sama mengucapkan terima kasih kepada driver grab bike yang kami order. Kemudian kami memasuki gang kecil dan menyusuri jalan di dalam gang tersebut. Gangnya memang kecil, tapi rame loh dan di dalam gang tersebut terdapat banyak penginapan. Menurutku lokasinya sangat strategis. Lokasinya dekat dengan Stasiun Tugu Yogyakarta dan dekat dengan kawasan Malioboro juga.
  Waktu telah menunjukkan pukul 09.30 WIB, aku dan temanku tiba di salah satu penginapan yang sudah kami booking dari jauh-jauh hari. Bukan penginapan yang mewah, hanya penginapan sederhana namun layak dan nyaman serta aman untuk di tempati. Penginapan yang kami sewa selama kami di Jogja adalah "Losmen Mawar" namanya.
Sumber Gambar : Dilansir dari berbagai sumber.
Sumber Gambar : Instagram @losmenmawarjogja
  Saat kami tiba di Losmen Mawar, temanku bertanya pada mbak yang bertugas di bagian receptionist. "Mbak sudah bisa check in sekarang?". Tanya temanku. Kemudian mbaknya menjawab "mohon maaf belum bisa mbak, baru bisa check in jam dua siang. Karena masih ada tamu yang akan check out jam dua belas nanti". Kemudian temanku kembali bertanya "kalau nitip barang dulu, bisa enggak mbak?". Mbak receptionist kembali menjawab "bisa mbak, mau mandi atau cuci muka juga boleh. Kalau mau mandi atau cuci muka, di toilet lantai atas ya". Temanku berkata "iya mbak, terima kasih". Kami berdua meletakkan barang-barang bawaan kami, kemudian kami menuju toilet yang berada di lantai atas untuk ganti pakaian dan cuci muka. Di hari itu kami berdua tidak mandi. Hehehe. Setelah itu kami pamit kepada mbak receptionistnya. Kami pamit akan pergi main dulu. Ya, kami berdua berencana akan mengunjungi kawasan Tamansari dan Sumur Gumuling. Setelah dari kawasan tersebut, kami berencana untuk berkunjung ke Candi Prambanan.
  Keluar dari gang, sebelum kami menuju kawasan Malioboro untuk order grab bike, kami sarapan terlebih dahulu. Judulnya sarapan yang kesiangan. Hehehe. Saat itu kami sarapan gudeg Mbah Lindu. Wih enak banget gudegnya. Ke Jogja tidak makan gudeg, rasanya tidak afdol, serasa ada yang kurang. Hehehe.
Sumber Gambar : reresepan.com
  Sebetulnya waktu itu aku sempat fotoin gudeg yang aku pesan, akan tetapi karena fotonya sudah hilang entah nyelip kemana, jadi untuk fotonya aku ambil dari google. Hehehe.
  Setelah makan gudeg, kami berjalan kaki menuju kawasan Malioboro. Setelah sampai di Malioboro, kami berdua berdiri di depan toko Batik Pramatya untuk order grab bike.
  Dari kawasan Malioboro ke kawasan Tamansari, kami menggunakan grab bike. Saat itu tarif grab bikenya kalau tidak salah sih Rp. 9.000.
  Kami berdua telah tiba di tempat tujuan yang pertama. Yaitu Tamansari dan Sumur Gumuling. Kami membeli tiket, untuk harga tiketnya aku lupa berapa, tapi masih di bawah Rp. 10.000. Kalau tidak salah sih antara Rp. 3.000-5.000an. Setelah membeli tiket, kami memasuki kawasan tersebut, kemudian kami foto-foto. Padahal kami datang saat weekday, tapi kawasan tersebut rame seperti weekend.
  Setelah dari kawasan ini, kami memasuki kawasan Sumur Gumuling.
  Foto ini di ambil ketika kami berdua baru memasuki area Sumur Gumuling. Setelah dari sini, kami berdua sama-sama berekspektasi untuk berfoto di spot yang menjadi iconnya Sumur Gumuling dan di samping kanan kiri dan depan belakang tidak ada orang, itu ekspektasi kami. Namun apalah daya ketika kami kesana, rame banget. Sehingga kami gagal untuk berfoto di spot foto yang menjadi iconnya Sumur Gumuling. Hehehe.
Sumber Gambar : m.republika.co.id
Sumber Gambar : tripadvidor.co.id
  Kami berdua sama-sama ingin berfoto di spot yang gambarnya aku post di atas, tapi gagal. Hahaha. Dan pada akhirnya kami berfoto di atas. Aku yang duluan mencoba naik ke atas, dan temanku yang fotoin dari bawah. Dan beginilah hasilnya. Hehehe.
  Di spot ini tinggi banget, kalau nunduk melihat ke bawah, rasanya ngeri sekali. Setelah itu gantian aku yang fotoin temanku di spot yang sama.
  Setelah foto-foto di atas, kami berdua foto-foto di bawah. Hehehe
  Kami berdua sudah mulai merasa lelah, karena kawasan Tamansari ini sangat luas. Kami saja tidak bisa menyambangi semuanya, karena sudah keburu lelah. Kami keluar dari kawasan Sumur Gumuling, kami beristirahat sejenak di warung yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk Sumur Gumuling. Kami istirahat sekaligus siapin stamina, karena setelah dari sini, kami akan melanjutkan trip ke Candi Prambanan.
  Rasa lelah kami sudah mulai menghilang secara perlahan-lahan. Kami keluar dari kawasan Tamansari, kemudian kami melanjutkan perjalanan. Dari Tamansari kami menggunakan jasa ojeg online lagi, masih sama, jasa ojeg online yang kami gunakan adalah grab bike. Hehehe. Kami naik grab bike dari Tamansari sampai ke Pasar Beringharjo.
  Setelah turun dari grab bike, kami keliling-keliling sejenak di Pasar Beringharjo. Kemudian kami membeli es jeruk, lalu kami mencari tempat duduk. Setelah kami menemukan tempat duduk yang kosong, kami duduk di kursi tersebut. Tempat duduk kami masih di sekitaran Pasar Beringharjo, dan ternyata tanpa kami sadari, kami duduk di depan bangunan gedung Benteng Verdeburg. Kami duduk disitu sambil menyeruput es jeruk. Panas-panas minum es jeruk rasanya seger banget. Bagi kami ini es jeruk terenak dan tersegar. Harganya Rp. 10.000, tapi jeruknya tiga buah, tidak di tambahkan apa-apa lagi, hanya di tambahkan air dan es saja. Manisnya benar-benar asli dari buah jeruknya langsung.
  Kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Prambanan. Untuk bisa sampai di Candi Prambanan, kami menggunakan transportasi umum transjogja. Kalau di Jakarta itu sama seperti busway. Aku naik transjogja untuk transaksi bayar tarifnya, menggunakan kartu e-tiket busway yang biasa aku gunakan ketika aku hendak naik busway di Jakarta.
   Awalnya aku pikir kartu ini tidak bisa di gunakan untuk transaksi naik transjogja. Namun setelah aku bertanya pada petugasnya, ternyata kartu ini bisa di gunakan juga untuk naik transjogja. Alhamdulillah ya. Hehehe.
  Dari halte kawasan Pasar Beringharjo ke halte Candi Prambanan, jaraknya jauh. Melewati Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Dari Bandara pun masih lumayan jauh.
  Tak terasa, aku dan temanku telah sampai di halte Candi Prambanan. Kami berdua turun dari transjogja. Kemudian kami keluar dari kawasan halte, setelah itu kami berjalan kaki menuju Candi Prambanan. Awalnya kami merasa canggung untuk berjalan kaki, karena dari halte ke Candi Prambanan itu jaraknya sekitar 1 km. Akan tetapi kami melihat dua orang turis yang sama-sama turun dari transjogja yang sama, mereka berjalan kaki menuju Candi Prambanan. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk berjalan kaki juga. Turis saja mau jalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh, masa kami berdua yang masyarakat lokal tidak mau berjalan kaki. Hehehe. Sepanjang perjalanan kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati suasana jalan kota Jogja yang bikin hati dan pikiranku adem. Hehehe.
  Kami telah tiba di Candi Prambanan. Setibanya kami di Candi Prambanan, kami berdua membeli tiket di loket tiket. Kami membeli tiket paket Candi lanjutan. Ya, kami membeli tiket yang bisa di gunakan untuk mengunjungi dua Candi. Pilihannya beraneka ragam, tentunya Candi-Candi yang ada di sekitaran Yogyakarta dan Magelang. Saat itu kami berdua membeli tiket paket Candi lanjutan (Prambanan-Borobudur), harganya Rp. 75.000. Lumayan kan hemat sekitar Rp. 5.000an. Kalau tidak salah sih, tiap Candi harga tiket masuknya di bandrol dengan harga Rp. 40.000an. Oh iya, tiket Candi lanjutan ini berlakunya hanya tiga hari saja. Jadi, membeli tiket masuk dua Candi bisa di gunakan di hari yang berbeda, yang penting jangan sampai lebih dari tiga hari.
  Setelah membeli tiket, kami memasuki kawasan Candi Prambanan. Sebelum menuju area Candinya, kami menuju toilet dan musholla terlebih dahulu untuk ganti pakaian dan untuk melaksanakan ibadah shalat dzuhur. Setelah itu, barulah kami menuju area Candinya. Ngomong-ngomong terniat banget ya bawa baju dan kerudung ganti untuk di pakai di Candi Prambanan. Maksud hati, supaya sama orang-orang di kira kami mengunjungi dua tempat di hari yang berbeda. Padahal faktanya masih di hari yang sama. Hehehe.
  Setibanya kami berdua di area Candi, temanku berkata kepadaku "tenang, sekarang kamu tidak akan di kejar-kejar oleh tugas dan tidak akan di suruh ngejar-ngejar turis lagi. Jadi kamu bebas foto-foto disini. Hahaha. Kami berdua tertawa kecil. Temanku berkata demikian, karena aku pernah cerita sama dia, kalau sewaktu SMA aku pernah ke Candi Prambanan, tapi tidak ada foto satu pun. Karena pada saat itu, aku terlalu sibuk ngejar-ngejar turis untuk memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa Inggris, dan sibuk mencari informasi tentang sejarah Candi Prambanan untuk memenuhi tugas mata pelajaran Sejarah.
  Ketika kami berada di Candi Prambanan, hari sudah sore. Jadi walaupun masih ada matahari yang memancarkan sinarnya, tapi tidak terlalu panas. Hehehe. Kami berdua saling bergantian foto-foto di Candi Prambanan. Dan inilah hasilnya. Hehehe
  Itulah foto-foto kami berdua di Candi Prambanan. Tidak ada foto berdua, karena terlalu sibuk foto sendiri-sendiri. Hehehe. Setelah kami merasa puas foto-foto di Candi Prambanan dan keliling-keliling Candi Prambanan, kami kembali menuju penginapan. Karena hari sudah menjelang petang. Dari pintu keluar Candi Prambanan menuju halte transjogja, kami menggunakan beca motor. Karena rasanya kami tidak sanggup jika harus berjalan kaki lagi. Hehehe. Kami naik beca motor berdua, tarifnya Rp. 20.000, jadi masing-masing dari kami mengeluarkan uang sebesar Rp. 10.000 saja.
  Kami telah tiba di halte transjogja. Ketika kami sampai di halte, transjogja yang akan kami gunakan belum datang. Jadi kami menunggu sebentar. Begitu transjogja yang akan kami naiki itu datang, kami langsung masuk. Di dalam transjogja, penumpangnya sedikit. Kalau di bus transjakarta, jam-jam menjelang maghrib adalah jam-jam sibuk orang pulang kerja, di dalam bus transjakarta lagi padat-padatnya banyak orang. Bahkan banyak yang berdiri dan rasanya eungap. Tapi berbeda dengan bus transjogja, bus transjogja malah sebaliknya.
  Tak terasa kami pun telah sampai di kawasan Pasar Malioboro, karena kami turun dari transjogja di halte Mallioboro 1 kalau tidak salah sih. Pokoknya haltenya berada di kawasan Pasar Malioboro. Dari Malioboro kami berjalan kaki menuju jalan Sosrowijayan.
  Terdengar suara adzan maghrib di kumandangkan, kami baru sampai di Losmen Mawar, tempat kami menginap. Kami sudah bisa check in, jadi begitu kami sampai kembali ke losmen, petugas losmen memberikan kunci kepada kami, kemudian beliau menujukkan kamar yang akan kami tempati. Dan kami pun masuk kamar. Di dalam kamar, terdapat beberapa fasilitas. Seperti : tv, Ac, Wifi, Bed ukuran nomor 1, meja dan kursi, juga toilet. Di atas meja sudah di sediakan dua botol air mineral. Aku akan share beberapa isi di dalam kamar losmen yang kami tempati. Foto-foto ini aku ambil dari instagramnya losmen mawar.
Sumber Gambar : Instagram @losmenmawarjogja
Sumber Gambar : Instagram @losmenmawarjogja
  Setibanya kami di losmen, kami bergantian mandi. Kemudian shalat maghrib.
  Pukul 20.00 WIB, kami jalan-jalan ke Malioboro. Tujuan utamanya sih mau cari makan di Malioboro. Kami bingung mau makan apa di Malioboro? Karena di Malioboro ini kalau malam hari banyak sekali di jumpai pedagang makanan. Dan akhirnya kami makan pecel lele termahal dari sekian pecel lele yang pernah kami makan. Hahaha. Waktu itu kami makan pecel lele seharga Rp. 26.000. Biasanya kami makan pecel lele yang harganya masih di bawah Rp. 20.000, kisaran harganya tidak jauh-jauh dari harga Rp. 15.000-16.000an, bahkan biasanya dengan mengeluarkan uang sebesar Rp. 20.000 saja kami sudah bisa menyantap pecel lele berikut air minumnya. Ya sudah tidak apa-apa, sesekali makan pecel lele yang mahal. Hehehe.
  Keesokan harinya, pukul 06.30 WIB, setelah selesai sarapan, kami berencana akan mengunjungi Candi Borobudur. Namun sebelum kami berkunjung ke Candi Borobudur, kami foto-foto terlebih dahulu di sekitaran Stasiun Tugu Yogyakarta dan di sekitaran Malioboro.
  Setelah selesai foto-foto, kami berdua memesan grab bike. Kami mengambil titik penjemputan dari depan toko Batik Pramatya Malioboro. Kami berdua naik grab bike dari kawasan Malioboro sampai Terminal Jombor.
  Temanku sampai di Terminal Jombor lebih dulu. Temanku menungguku sambil duduk di bawah pohon yang ada di Terminal Jombor. Antara aku dan temanku sampai di Terminal Jombornya selang sekitar sepuluh menit.
  Dari Terminal Jombor, kami berdua naik bus lokal ekonomi jurusan Jombor-Borobudur. Kemudian kami turun di Terminal Borobudur. Dari terminal ke Candi Borobudur, kami menggunakan jasa transportasi "beca". Sepanjang perjalanan, bapak tukang becanya sempat menawarkan kepada kami untuk di antar ke Gereja Ayam juga. Gereja Ayam itu tempat lokasi shootingnya film Ada Apa Dengan Cinta 2. Namun kami berdua menolak dengan baik, karena tujuan utama kami adalah ke Candi Borobudur.
  Kami tiba di Candi Borobudur. Di Candi Borobudur, kami tidak perlu mengantri di loket tiket lagi, karena kami sudah membeli tiketnya sewaktu kami berkunjung ke Candi Prambanan hari kemarin. Jadi begitu kami tiba di Candi Borobudur, kami langsung cek tiket saja.
  Seperti biasa, di Candi Borobudur kami berdua saling bergantian untuk berfoto di sekitar Candi. Temanku sempat menyuruhku untuk foto sambil loncat, tapi aku tidak mau, karena saat itu aku pakai sepatu wedges yang tingginya 7cm. Hehehe.
  Setelah dari Candi Borobudur, kami langsung pulang kembali ke losmen tempat kami menginap. Dari pintu keluar Candi Borobudur menuju Terminal Borobudur, kami berdua naik ojeg konvensional. Satu motor bertiga dengan tukang ojegnya. Kami berdua membayar ongkos ojeg sebesar Rp. 10.000 saja. Rp. 10.000 berdua, berarti masing-masing dari kami mengeluarkan uang untuk bayar ojeg sebesar Rp. 5.000 saja.
  Dari Terminal Borobudur, kami naik bus lokal ekonomi Borobudur-Jombor. Kami turun di Terminal Jombor. Dari Terminal Jombor, kami lanjut order grab bike. Ya, dari Terminal Jombor ke Jalan Sosrowijayan, kami naik grab bike.
  Kami telah kembali ke Losmen Mawar, tempat kami menginap. Aku mandi duluan, sedangkan temanku tidak langsung mandi. Setelah aku selesai mandi, karena kami sama-sama merasa lapar, jadi kami keluar untuk mencari makan. Kami makan bakso gerobak di pinggir jalan yang lokasinya tidak jauh dari gang II Jalan Sosrowijayan. Setelah makan bakso, kami kembali ke penginapan. Kami istirahat sejenak di penginapan.
  Pukul 17.00 WIB, kami kembali keluar. Kami jalan-jalan sore ke sekitaran Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami berfoto-foto disana. Lagi-lagi foto, lagi-lagi foto. Dimanapun berada, selalu foto. Ya ampun narsis banget ya. Hehehe. Eh tapi tidak apa-apa ya mumpung lagi ada di Jogja, iya kan? Hehehe.
  Itulah foto-foto aku di sekitaran Stasiun Tugu Yogyakarta. Setelah dari kawasan Stasiun, aku dan temanku menuju kawasan Tugu Jogja. Dari Stasiun ke Tugu Jogja, kami naik beca motor.
  Foto ini adalah foto kami berdua saat naik beca motor menuju Tugu Jogja. Karena dari Stasiun ke Tugu itu jaraknya lumayan jauh. Hehehe.
  Sampai di Tugu Jogja, kami kembali foto-foto. Hehehe.
  Setelah foto-foto, kami berdua mampir ke kedai angkringan Mbak Lina yang dekat dengan Tugu Jogja. Di kedai angkringan Mbak Lina ini banyak sekali menu yang aku suka, sampai kalap dong aku ambil banyak. Nasinya saja aku ambil dua bungkus. Hahaha. Karena nasi disini pun banyak pilihan menunya.
Pilihan menu di kedai angkringan Mbak Lina Tugu Jogja.
Menu yang aku pesan pada saat itu.
  Setelah selesai makan, kami kembali ke penginapan. Untuk menuju ke penginapan, awalnya kami hendak naik transjogja, namun kami di tolak oleh petugas yang berjaga di halte. Katanya sudah tidak ada transjogja yang beroperasi lagi, karena sudah menjelang malam. Di tolak petugas transjogja tak sesakit seperti di tolak sang pujaan hati. Hahaha. Akhirnya kami berdua kembali menggunakan jasa bapak tukang beca. Kami naik beca dari kawasan Tugu Jogja sampai sebelum rel kereta Stasiun Tugu Yogyakarta.
  Jam setengah tujuh malam, aku dan temanku sudah berada di penginapan kembali. Kami berdua shalat maghrib, kemudian kami menunggu adzan isya di kumandangkan. Setelah adzan isya di kumandangkan, kami berdua menjalankan ibadah shalat isya. Setelah shalat isya, aku keluar sendirian ke Malioboro. Aku pergi ke Mall Malioboro, karena aku ingin membeli kue Mamahke Jogja. Itu loh toko kue milik aktris sekaligus mc yang pernah populer pada jamannya. Ya ownernya adalah aktris cantik bernama Zaskia Adya Mecca. Karena aku followersnya dia di Instagram, dan aku juga terinspirasi sama dia. Jadi begitu aku ke Jogja, aku cobain kuenya. Dan rasanya beneran enak, teksturnya lembut dan empuk. Waktu itu aku beli yang Mamahke Krucils rasa cokelat.
Seperti ini wujud penampakan Mamahke Jogja yang aku beli.
  Tanggal 17 Agustus, 2019. Tepat pukul 06.00 WIB, aku dan temanku sarapan nasi goreng. Nasi goreng tersebut adalah fasilitas dari losmen. Setelah sarapan, aku sempat selfie di dalam losmen. Hehehe.
Narsis dulu sebelum meninggalkan losmen.
  Kami keluar kamar dengan membawa barang bawaan kami, kemudian kami berdua berpamitan kepada petugas losmen yang sedang berjaga di meja receptionist. Setelah itu kami beranjak pergi meninggalkan Losmen Mawar.
  Pulang ke Bandung, aku dan temanku akan menggunakan transportasi kereta api. Kereta api yang akan kami gunakan adalah Kereta Api Lodaya Pagi jurusan Solo Balapan-Bandung. Jadwal keberangkatan kereta yang akan kami gunakan, waktunya jam delapan pagi.
  Sebelum menuju Stasiun Tugu Yogyakarta, kami membeli gudeg yang masih berada di dalam gang II Sosrowijayan. Kami membeli gudeg tersebut di bungkus untuk di makan di dalam kereta. Hehehe.
  Pukul 07.30 WIB, aku dan temanku tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Saat kami sampai di Stasiun, kami berdua cetak tiket. Kemudian kami mengantri untuk check in. Setelah check in, kami duduk di ruang tunggu menunggu keretanya tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta.
  Pukul 07.55 WIB, kereta api Lodaya Pagi jurusan Solo Balapan-Bandung telah tiba di Stasiun Tugu Yogyakarta. Kami berdua memasuki gerbong, kemudian kami mencari tempat duduk. Gerbong kami setelah gerbong makanan, tempat duduk kami berdua juga dekat dengan gerbong makanan.
  Jam setengah sembilan pagi, berhubung saat itu adalah bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kondektur yang bertugas di dalam kereta meminta kepada seluruh penumpang untuk berdiri sejenak dan menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya". Semua penumpang mengikuti arahan atau perintah dari kondektur kereta. Dengan penuh semangat, semua penumpang serentak menyanyikan lagu kebangsaan "Indonesia Raya". Ya, kami upacara sejenak di dalam kereta untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan negeri ini. Masyaa Allah Tabrakallah, keren.
  Jam sebelas siang, kami berdua sama-sama membuka gudeg, kemudian kami makan gudeg yang kami beli dari penjual gudeg yang berjualan di dalam gang II Sosrowijayan.
  Sekitar jam empat sore, kereta yang kami tumpangi berhenti di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Tadinya kami akan turun di Stasiun Bandung, tapi Stasiun Bandung bagi aku yang tinggalnya di daerah Rancaekek sih terlalu jauh. Hehehe. Jadi, kami sama-sama turun di Stasiun Kiaracondong, Bandung.
  Dari Stasiun Kiaracondong, aku lanjut naik kereta lokal. Saat itu tarif kereta lokal Bandung Raya sebesar Rp. 0. Ya, saat itu naik kereta lokal secara gratis.
  Di dalam kereta sangat penuh dan saling berdesakan. Aku yang naiknya dari Stasiun Kiaracondong tidak kebagian tempat duduk, alhasil aku berdiri sambil membawa gembolan. Kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menyuruhku untuk duduk di tempat duduknya. Dia berdiri beranjak dari tempat duduknya, lalu dia mempersilahkan aku untuk duduk. Masyaa Allah, Alhamdulillah. Padahal berdiri pun aku tak apa.
  Pukul 17.30 WIB, aku sampai di kosanku. Sampai kosan langsung istirahat. 
  Dengan demikian berakhirlah sudah kisah perjalananku Bandung-Jogja dan Jogja-Bandung.
  Liburan ke Jogja, membuatku sangat merasa bahagia. Pikiranku benar-benar terasa ringan dan terasa fresh, seperti tidak ada beban. Hehehe. Aku sangat menikmati liburan ke Jogja tahun kemarin. Walau liburannya ala-ala backpacker, tapi seru dan have fun banget. Ngomong-ngomong aku dan teman aku sih backpacker nanggung. Hehehe.
  Padahal kami tidak ada niat atau tidak ada rencana untuk naik kereta kelas Bisnis dan bus kelas eksekutif, karena kami merasa budget kami tidak cukup. Namun ketika temanku iseng-iseng survey di aplikasi traveloka, ada bus jurusan Bandung-Jogja yang lagi ada promo sampai batas waktu tertentu. Terlebih lagi, ketika mendekati hari H, kami berdua sama-sama mendapat rezeky yang tak terduga. Sehingga dengan demikian kami berdua bisa membeli tiket kereta kelas bisnis dan bisa membeli tiket bus kelas eksekutif. Alhamdulillah.
  Rencana kami berdua di awal untuk urusan transportasi umum, baik pergi maupun pulang, kami akan menggunakan kereta api kelas ekonomi. Karena takut budgetnya tidak cukup. Hehehe, tapi Alhamdulillah di luar dugaan, kami sama-sama mendapatkan rezeky yang tak terduga berupa sejumlah uang ketika menjelang hari H. Hehehe. Dan uang tersebut kami gunakan untuk membeli tiket kereta kelas bisnis, dan kami juga menggunakannya untuk upgrade sewa kamar di penginapan. Karena awalnya kami booking kamar di Losmen Mawar adalah tipe kamar yang "Standar Fan". Kamar tersebut adalah kamar mandinya di luar, jadi di dalam kamarnya tidak ada kamar mandinya. Dan itu sewa kamar dengan harga yang paling murah. Kemudian berhubung kami berdua sama-sama mendapat rezeky yang tak terduga ketika mendekati hari keberangkatan kami ke Jogja, jadi kami upgrade sewa kamar di Losmen Mawar. Dari sewa kamar yang standar fan ke sewa kamar yang Ac room. Hehehe. Alhamdulillah waktu itu Allah mengizinkan aku dan temanku untuk liburan ke Jogja dengan fasilitas yang membuat kami berdua merasa nyaman dan bahagia.
  Liburan itu tidak harus mewah. Tidak harus menunggu tajir melintir atau banyak uang dulu. Yang penting tulis saja dulu di deretan list life mapping, diusahakan, kemudian ikhtiarin, dan jangan lupa untuk berdo'a memohon ridho kepada Allah. Karena kalau Allah sudah ridho, kita minta apa saja, pasti di beri.
  Liburan keluar kota dengan menggunakan transportasi umum bersama teman, walau hanya berdua, tapi terasa jauh lebih seru dan lebih terasa berpetualangnya. Karena bagiku, kalau liburan bersama rombongan dengan menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan tertentu, walau dalam rangka acara bebas atau hanya sekedar refreshing, dan walau tidak perlu pusing mencari informasi tentang transportasi umum di dalam kota yang akan di kunjungi, tapi serasa tidak bebas. Hehehe.

Tentang Losmen Mawar :
  Di Losmen Mawar, aku dan temanku awalnya sewa kamar yang standar fan, harganya Rp. 100.000/malam. Kemudian kami upgrade kamar dari standar fan ke Ac room. Harga sewa kamar Ac room Rp. 150.000/malam. Jadi kami tinggal menambahkan uang sebesar Rp. 100.000. Masing-masing dari kami menambahkan uang sebesar Rp. 50.000. Kami berdua menginap di Losmen Mawar selama dua hari dua malam. Fasilitas yang kami dapatkan adalah ruang kamar ber Ac, di dalam kamar terdapat meja & kursi, tv, dan tempat tidur spring bed ukuran nomer 1, serta selimut. free wifi, free air mineral kemasan botol 600ml, free breakfast. Setiap hari menu breakfastnya ganti-ganti. Dan kamar mandi di dalam. Di kamar mandinya terdapat wastafel, shower, sabun mandi, shampoo, dan kamar mamdi. Untuk WCnyaBerbentuk WC tempat duduk. Pokoknya Losmen Mawar ini menurutku recomended untuk para travellers ala backpacker yang hendak berlibur ke Jogja. Karena lokasinya strategis, pelayanannya ramah, dan tempatnya juga aman dan nyaman.

  Liburan tahun lalu, masih bisa liburan dengan bebas. Tanpa ada rasa takut atau parno, tanpa ada jaga jarak dengan orang lain, kecuali dengan yang bukan muhrim. Dan tanpa harus mengeluarkan uang tambahan untuk keperluan biaya rapid test antibody/rapid test antigen/PCR swab.
  Semoga pandemi covid-19 segera berakhir dan kehidupan kita kembali normal seperti dulu sebelum adanya pandemi covid-19. Aamiin.

Komentar

  1. lengkap bgt mba, jadi kangen jogja hehe


    https://kalderaproject.blogspot.com

    BalasHapus
  2. MasyaAllah, seru banget liburannya Mba.. lengkap dengan foto2 keren lagi.. Mudah2an pandemi ini segera berlalu ya Mba, sehingga kita bisa kembali refreshing mengunjungi daerah2 cantik di luar sana..

    BalasHapus
  3. Liburan tahun lalu, tapi ingat ya runutan ceritanya kere mbak, Aku udah lama pengen ke prambanan tapi belum kesampean, Kalau ke jogja lagi pengen banget kesana.

    BalasHapus
  4. Jadi pengen ke Jogja lagi..lengkap ya mba ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga pandemi segera berakhir yaa mba, dan semoga bisa segera ke jogja

      Hapus
  5. Auto flashback dan kangen Jogja jadinya mba, kota yg slalu ngangenin Jogja tuh

    BalasHapus
  6. Jadi kangen main ke jogja mba, tahun lalu sebelum pandemi sempat liburan di jogja beberapa hari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, aku juga pengen ke jogja lagi. Hehehe

      Hapus
  7. Masya Allah. Jogja memang bikin kangen. Setiap tempat yang dikunjungi pasti punya cerita tersendiri. Hayuk ke Jogja lagi. Semoga wabah segera berakhir. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya umm, jogja selalu bikin kangen dan bikin nagih

      Hapus
  8. Setelah baca tulisan mba, aku jadi makin pengen ke jogjaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe. Aku yang udah pernah ke jogja aja, pengen ke jogja lagi mba.. Hehehe

      Hapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya dan terima kasih sudah membaca.

Postingan populer dari blog ini

Pejuang Amplop Cokelat

Quality Time