Quality Time


  Quality Time. Quality Time itu apa sih? Saya pernah membaca di google, (lupa lagi sumbernya), Quality Time itu adalah waktu bermakna yang kita habiskan dengan orang-orang yang berharga untuk kita. Entah itu keluarga, sahabat, rekan kerja, pasangan, atau yang lainnya. 
  Penting enggak sih Quality Time bersama sahabat yang sudah sekian purnama tak berjumpa? Menurut saya penting ya. Mengapa demikian? Karena Supaya dalam hidup saya itu, ada kenangan atau momen terbaik bersama sahabat. Di mana momen tersebut, momen yang berkesan yang kita ciptakan bersama sahabat.
  Bagi saya sahabat itu sama seperti keluarga, apalagi sahabat yang tidak memandang saya berasal dari kalangan mana? dan tanpa memandang bagaimana latar belakang saya?
  Saya memiliki beberapa orang sahabat yang benar-benar tulus menerima saya apa adanya dan tidak gengsi berteman dengan saya. Walau mereka tahu keburukan saya dan bagaimana saya di masa lalu saya, juga mereka tahu bagaimana keluarga saya, tapi mereka sama sekali tidak pernah meninggalkan saya. Masyaa Allah Tabarakallah. 
  Ketika saya baru awal-awal merantau di Bandung, saya dan salah satu sahabat saya semasa SMP, pernah memiliki rencana untuk liburan bareng di Bandung. Siapa sih yang tidak tahu Bandung? Salah satu kota di Indonesia yang terkenal dengan destinasi wisatanya yang Masyaa Allah, apalagi wisata alamnya. Wih, konon katanya wisata alamnya begitu mempesona dan membuat mata terpana. Akan tetapi, setiap kali kita merencanakan untuk liburan bareng ke Bandung, rencana kita selalu gagal. Ada saja halangannya. Disisi lain karena pada saat itu saya sibuk kerja, sedangkan sahabat saya sibuk kuliah.
  Bandung, kota yang mendapat julukan sebagai "Kota Kembang" dan memiliki beberapa icon kota seperti Gedung Sate, Jembatan Layang Pasupati, dan masih banyak lagi yang lainnya. 
  Kalau ngomongin soal Bandung, yang ada di pikiran saya adalah Gedung Sate, kuliner, pusat perbelanjaan, dan obyek wisata. Hehehe. Menurut saya, kalau ngomongin soal obyek wisata dan kuliner di Bandung itu tidak pernah ada habisnya. Betul enggak sih? Hehehe.
  Pada suatu hari, tepatnya di awal tahun 2018. Sahabat terdekat saya semasa SMP datang ke Bandung, karena ada keperluan ke Kantor Dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat. Dia dari Indramayu ke Bandung naik bis Damri bersama teman semasa kuliahnya. Ketika mereka sampai di Bandung, saya meminta mereka untuk turun di Jatos saja (salah satu mall di Jatinangor, Sumedang). Kita janjian ketemuan disana. Saya jemput mereka disana. Awalnya sih kita sepakat janjian, kalau saya jemput mereka di Cileunyi sebelum gerbang tol Cileunyi. Akan tetapi, karena saya sudah paham betul bagaimana suasana hiruk pikuknya di sekitaran gerbang tol Cileunyi, dan saya merasa kasihan sama mereka. Jadi, saya memutuskan untuk jemput mereka di Jatos saja, dan akhirnya kita sepakat. Karena pada waktu itu kebetulan saya kerjanya sedang shift pagi, saya pulang kerja jam setengah tiga sore, sementara mereka berangkat dari Indramayu jam setengah sebelas siang. Sedangkan perjalanan dari Indramayu ke Bandung, tepatnya di perbatasan Sumedang-Bandung itu kurang lebih waktu tempuhnya empat jam. Ya, menurut saya, Jatos itu tempatnya lebih aman dan lebih nyaman saja sih, kalau di bandingkan dengan sekitaran gerbang tol Cileunyi. Jadi, kalaupun nantinya mereka yang nyampe duluan, saya merasa tenang. Karena mereka menunggu di tempat yang aman.
  Di hari itu, saya pulang kerja lebih awal. Jam dua siang lebih lima belas menit, saya sudah sampai di kosan. Begitu sampai kosan, saya langsung menghubungi sahabat saya. Saya menanyakan padanya "sudah sampai mana?", kemudian dia menjawab "sudah sampai Tanjungsari". Wah sudah lumayan dekat nih, saya pun bergegas siap-siap. Mandi dan ganti pakaian, kemudian berangkat naik angkot, dua kali. Yang pertama naik angkot jurusan Cicalengka-Cileunyi, kemudian saya turun di depan Rabbani Rancaekek, lalu saya lanjut naik angkot jurusan Majalaya-Sayang-Gedebage. Ketika saya baru sampai di Jalan Sayang, sahabat saya mengabari kalau dirinya dengan temannya sudah sampai di Jatos, dan mereka menunggu di loby bawah Jatos. Kemudian saya meminta dia untuk menunggu sebentar, sekitar sepuluh menitan lagi saya sampai. 
  Tidak ada sepuluh menit, saya telah sampai di Jatos. Saya menemui mereka di loby bawah. Kemudian kita masuk dan makan di foodcourt Jatos. Selesai makan, kita langsung pulang ke kosan saya yang berlokasi di daerah Cipasir, Rancaekek.
  Keesokan harinya, sahabat saya bersama temannya minta di antar sama saya untuk pergi ke Kantor Dinas kesehatan Provinsi Jawa Barat. Karena mereka tidak tahu jalannya dan tidak tahu transportasi umumnya. Kebetulan saat itu saya kerjanya sedang bagian shift malam, jadi saya bisa mengantar mereka. Sebetulnya saya di kosan ada motor pribadi sih, tapi berhubung kita bertiga, jadi perginya naik transportasi umum saja. 
  Barangkali ada yang membutuhkan info transportasi umumnya, saya akan share rute-rute naik transportasi umumnya ya. Hehehe. Baiklah, dari Rancaekek kita naik angkot jurusan Cicalengka-Cileunyi, kemudian turun di terminal Cileunyi (dekat pasar Cileunyi). Lanjut naik angkot Cileunyi-Cicaheum, turun di sekitaran Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, lokasinya di daerah Cibiru, tidak jauh dari bunderan Cibiru. Dari situ kita lanjut naik bus Damri Bandung Raya jurusan Cibiru-Kebon Kalapa. Turun di Kebon Kalapa. Lanjut naik angkot Buah Batu-Sederhana (Kebon Kalapa-Sederhana), turun di seberang Kantor Dinkesnya. Oh iya, untuk angkot jurusan Buah Batu-Sederhana ini ada dua ya teman-teman. Dan warna angkotnya juga sama. Ada yang Buah Batu-Kebon Kalapa, dan ada yang Kebon Kalapa-Sederhana. Nah, kalau untuk ke Kantor Dinkes atau ke kawasan Jalan Pasteur, Jalan Pasir Kaliki dan sekitarnya. Pokoknya kawasan RS. Hasan Sadikin, naiknya yang Buah Batu-Sederhana (Kebon Kalapa-Sederhana) ya. Wes kalau bingung, sebelum naik tidak ada salahnya untuk bertanya terlebih dahulu kepada mang sopirnya. Hehehe. Sebetulnya sih, ada transportasi umum yang lebih simple dan tidak banyak naik turunnya. Hehehe. Kalau dari Rancaekek bisa naik angkot satu kali, di lanjut dengan naik kereta lokal Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang, kemudian naik angkot lagi satu kali. Namun karena pada saat itu, saya masih belum tahu kalau ada angkot yang ke arah kawasan RS. Hasan Sadikin yang lewat depan Stasiun Bandung (Jalan Kebon Kawung), jadi ya kita naik transport umum yang banyak naik turunnya. Hehehe. Oh iya, untuk Stasiun Bandung juga, ada dua ya teman-teman. Ada yang di Jalan Kebon Kawung dan ada yang di Jalan Stasiun Timur. Setahu dan seingat saya, kalau yang di Jalan Stasiun Timur itu untuk jalur kereta luar kota, sedangkan kalau yang di Jalan Kebon Kawung itu untuk jalur kereta lokal Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang dan kereta lokal Bandung-Garut jurusan Bandung Raya-Cibatu (Garut). Baiklah saya akan share untuk transportasi umum via angkot dan kereta lokal Bandung Raya yang saya sebutkan tadi. Dari Cipasir, Rancaekek naik angkot Cileunyi-Cicalengka, turun di Stasiun Cicalengka. Posisi Stasiunnya tidak di samping Jalan Raya ya teman-teman. Jadi, turun dari angkot, kita jalan kaki dulu menyusuri gang kecil untuk bisa sampai ke Stasiun Cicalengka nya. Dari Stasiun Cicalengka, sudah pasti naik kereta dong ya. Hehehe. Naik kereta lokal Bandung Raya, jurusan Cicalengka-Padalarang, turun di Stasiun Bandung (Jalan Kebon Kawung). Dari Stasiun Bandung, jalan kaki sebentar menuju jalan Raya. Lanjut naik angkot Buah Batu-Sederhana (Kebon Kalapa-Sederhana), turun langsung di seberang Kantor Dinkesnya.
  Setelah urusan ke Kantor Dinkes selesai, sahabat saya bersama temannya mengajak saya untuk berkunjung ke Dago Dreampark. Berhubung hari baru menjelang siang, jadi saya menerima ajakan mereka. Dari Kantor Dinkes ke Dago Dreampark, kita naik grab car. Karena untuk menuju ke Dago Dreamparknya, tidak ada transportasi umum seperti angkot ataupun angkutan dalam kota lainnya, selain ojeg online dan ojeg konvensional, juga taksi online dan taksi konvensional. Tarif grab car dari Kantor Dinkes ke Dago Dreampark saat itu adalah Rp. 10.000. Karena kita bertiga, jadi kita patungan. Yang dua orang, masing-masing Rp. 3.000, dan yang satu orang Rp. 4.000. Wes tidak apa-apa satu orang mengalah mengeluarkan uang lebih besar dari yang lainnya. Hehehe
  Sesampainya di Dago Dreampark, kita bayar tiket masuk terlebih dahulu. Saat itu, kita datang kesana pas weekday, jadi tarif tiketnya Rp. 25.000. Baru masuk, kita langsung menuju wahana spot foto. Masing-masing dari kita naik wahana spot foto Paraglading, sejenis paralayang gitu. Hehehe. Tarif wahananya di bandrol dengan harga Rp. 30.000, sudah free 5 file foto. Dan untuk fotonya di ambil di loket pengambilan foto. Untuk wahana spot foto di Dago Dreampark ini, banyak sekali jumlahnya. Dan untuk tarif wahana spot foto di Dago Dreampark mulai di bandrol dengan harga Rp. 20.000 - Rp. 30.000an (sudah termasuk free 5 file foto).
  Setelah naik wahana paraglading, kita lanjut keliling-keliling sambil foto-foto dan menikmati alam di sana. Alamnya sejuk dan rindang, karena terdapat banyak pohon pinus disana. Dago Dreampark ini, luas banget ya teman-teman. Menurut saya, walau di Dago Dreampark ini ada playground dan ada wahana-wahana khusus untuk anak-anak juga, tapi tempat ini lebih cocok untuk orang dewasa, dan kurang friendly untuk lansia dan anak-anak. Karena Dago Dreampark ini benar-benar luas banget, kontur jalan di dalam area obyek wisatanya juga hampir semuanya terdapat tanjakan dan turunan yang lumayan curam dan menguras tenaga (bila jalan kaki full dari loket tiket masuk sampai masuk ke area wisatanya, dan sampai keluar dari area wisatanya). Banyak spot foto yang kece-kece disana. Baik spot foto yang berbayar maupun spot foto yang gratis. Untuk wahana spot fotonya sendiri seperti di kelompok-kelompokkan gitu, dan jaraknya saling berjauhan dari kelompok wahana satu ke kelompok wahana lainnya.
  Saat berkunjung kesana, kalau saya sih merasa seperti sedang berada di Bali. Mengapa demikian? Karena nuansanya, lebih dominan ke nuansa Bali gitu. Ada beberapa bangunan yang di sekitar bangunan tersebut terdapat beberapa patung yang berbentuk seperti patung-patung yang ada di Bali. Dari mulai patung yang kecil, sampai patung yang besar. Saya juga sempat mendengar alunan musik daerah Bali saat berkunjung kesana. Kalau tidak salah sih, alunan musik tersebut terdengar dari sebuah gedung Amphiteater.
  Baiklah, saya akan share foto-foto saya sewaktu saya berkunjung ke Dago Dreampark bersama kedua teman saya. Kebetulan masih ada beberapa foto yang tersisa. Hehehe.
  Spot foto ini, posisinya sudah berada di bawah. Tapi bukan di bagian yang paling bawahnya. Saya bersama kedua teman saya dari atas ke bawah, jalan kaki menyusuri jalan turunan yang lumayan curam. Kondisi jalannya seperti yang terlihat pada foto. Capek tapi seru. Padahal kalau tidak mau capek, untuk turun ke bawahnya, kita bisa naik bus wara-wiri yang sudah di sediakan oleh pihak pengelolanya. Namun karena naik bus wara-wiri itu harus mengeluarkan uang lagi sebesar Rp. 10.000 untuk sekali jalan, jadi kita lebih memilih untuk jalan kaki saja. Biar lebih hemat dan lebih biar seru saja sih. Hehehe.
   Foto ini juga posisinya di bawah, bukan di spot yang paling bawahnya. Tapi sudah di bawahnya spot foto pada foto yang pertama tadi. Ini ceritanya sedang istirahat sambil iseng-iseng foto, karena viewnya Masyaa Allah. Hehehe.
Sumber Gambar : bangdzul.com
Sumber Gambar : creandivity.com
  Nah ini spot foto yang berada di paling bawah, setelah sekian menit jalan kaki dari atas sampai ke bawah sini. Hehehe.
  Di sekitaran sini, ada musholla dan toilet. Terus saat kita mau balik lagi atau mau pulang. Disitu nanti ada wahana permainan air row a Boat, ada wahana permainan pirate's ship, juga ada beberapa wahana spot foto yang berbayar, dan ada beberapa restoran juga.
  Berhubung foto-foto yang ada di gallery HP saya pada waktu itu, sebagian sudah hilang, jadi saya akan share gambar-gambarnya. Gambarnya saya ambil dari berbagai sumber.
Sumber Gambar : idetrips.com
Sumber Gambar : infokobar.com
  Agak naik ke atas dikit, disitu nanti ada tempat parkir bus wara-wiri. Jadi, kalau dari bawah mau naik ke atas lagi tidak mau jalan kaki, kita bisa naik bus wara-wiri. Namun tim saya pada saat itu, tim jalan kaki. Walaupun naik turun seperti sedang mendaki gunung. Tapi kita begitu menikmatinya sambil ngobrol-ngobrol dan foto-foto. Oh iya, tempat parkir bus Wara-Wiri itu ada dua ya. Ada yang di atas (untuk mengantar wisatawan turun ke bawah) dan ada yang di bawah (untuk mengantar wisatawan kembali naik ke atas). Oh iya, Saya juga akan share beberapa foto bus wara-wiri yang gambarnya saya ambil dari berbagai sumber juga.
Gambar Bus Wara-Wiri Dago Dreampark.
Sumber Gambar : nativeindonesia.com
Sumber Gambar : tempatasik.com
  Pokoknya kalau mau berkunjung ke Dago Dreampark, saya sarankan kondisi tubuh harus sedang benar-benar dalam keadaan fit banget ya. Karena lokasinya luas banget dan banyak terdapat tanjakan juga turunan. Terus jarak wahana spot fotonya juga saling berjauhan. Lokasi tempat parkir kendaraan dengan tempat untuk berwisatanya juga berjauhan.
  Setelah dari Dago Dreampark, kita pulang. Namun sebelum pulang ke kosan, terlebih dahulu saya mengajak kedua teman saya untuk singgah sejenak di kawasan Jalan Diponegoro. Ada apa sih disana? Jadi, teman-teman di Jalan Diponegoro itu adalah kawasan pemerintahan provinsi Jawa Barat. Disana, ada Gedung Sate yang menjadi salah satu icon kota Bandung, terus ada Lapangan Gasibu, ada Taman Lansia, ada Museum Geology, dan ada bangunan-bangunan gedung pemerintahan. Seperti gedung DPRD Provinsi Jawa Barat, dan lain-lain. Oh iya, di sekitaran Jalan Diponegoro juga ada salah satu Masjid yang terkenal di Bandung selain Masjid Agung Bandung yang terletak di pusat kota Bandung, yaitu Jalan Asia Afrika. Kalau Masjid Agung Bandung kan letaknya di pusat kota Bandung, Nah kalau Masjid yang letaknya di sekitar pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Masjid apa hayo? Ya, jawabannya Masjid Pusdai Bandung. Hehehe.
  Alasan saya mengajak kedua teman saya ke Jalan Diponegoro. Karena bagi saya, tempat tersebut seperti mempunyai cerita tersendiri. Hehehe. Waktu awal-awal pertama kali saya datang ke Bandung, tempat yang pertama kali saya datangi di kota Bandung adalah Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. 
  Walaupun selama di Bandung, saya sering datang ke tempat tersebut, namun saya seperti tak pernah bosan dengan tempat tersebut. Setiap kali ada teman yang dari luar kota berkunjung ke Bandung, kalau dia mengajak saya untuk menemani jalan-jalan selama di Bandung, ketika sudah selesai mengunjungi tempat-tempat yang mereka inginkan, sebelum pulang, saya selalu ajak mereka ke Gedung Sate dan sekitarnya. Karena rasanya kurang afdol saja gitu kalau ke Bandung tanpa ke Gedung Sate. Hehehe..
  Dari Dago Dreampark ke Gedung sate, kita naik grab car lagi. Tarifnya Rp. 10.000, dan kita patungan lagi. Hehehe. Sesampainya di Gedung Sate, kita foto-foto di depan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu. Setelah itu, saya mengajak kedua teman saya berjalan kaki dari Lapangan Gasibu menuju pool Damri Bandung Raya jurusan Dipati Ukur-Jatinangor. Pool Damrinya terletak di seberang kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur. Kita jalan kaki dari Lapangan Gasibu ke Pool Damri nya, via Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Jadi tidak terlalu jauh. Saya pun menunjukkan kepada mereka, menunjukkan sebuah bangunan yang berdiri megah berwarna putih dan ada lambang garuda di bagian tengah atas bangunannya. Bangunan tersebut adalah bangunan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat.
  Bangunan Monumen Perjuangan Rakyat  Jawa Barat. 
Sumber Gambar : wisatabdg.com
  Beberapa menit kemudian. Tak terasa, kita pun telah sampai di pool Damri. Kita langsung masuk ke dalam bus damri. Tarif Damri Dipati Ukur-Jatinangor ini, jauh dekat di bandrol dengan harga Rp. 8.000 saja. Sangat murah, karena dari Dipati Ukur ke Jatinangor itu jauh loh. Makan waktu kurang lebih satu jam setengah kalau naik Damri, karena Damri via tol Moh.Toha. Kita turun di Cileunyi, tepatnya di depan Rumah Sakit AMC Cileunyi. Dari situ kita lanjut naik angkot Cileunyi-Cicalengka, turun di Cipasir, Rancaekek.
  Turun dari angkot, kita mampir ke kedai makanan, yaitu kedai "Sambal Ndower Cabang Rancaekek". Kita makan disitu, karena kita lapar. Karena dari pagi, cuma baru makan sarapan saja.
  Waktu telah menunjukkan pukul 17.30 WIB, akhirnya kita sampai di kosan kembali dengan selamat. Alhamdulillah urusan kedua teman saya ke Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat di hari itu berjalan dengan lancar, dan bonusnya bisa jalan-jalan bareng ke salah satu tempat destinasi wisata yang lagi hits di Bandung pada saat itu.
  Dengan demikian, berakhirlah sudah cerita seru saya bersama kedua teman saya di hari itu. Pokoknya saat itu adalah momen terbaik yang tak terlupakan. Karena saya dan sahabat saya beberapa kali merencanakan wisata bareng di Bandung, namun tak kunjung terealisasikan. Akan tetapi sekalinya sahabat saya ada keperluan ke Bandung, tanpa di rencanakan alias dadakan, bisa membuat kita Quality Time di Bandung. Masyaa Allah Tabarakallah.
  Memang ya, segala sesuatu yang di rencanakan dari jauh-jauh hari itu seringkali berujung gagal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak di rencanakan itu, seringkali terlaksana dengan baik.

Komentar

  1. Membaca tulisan ini buat aku jadi semakin pengen liburan secepatnya... Dreampark bener-bener indah ya, kok kayak negeri dongeng gitu, tiket masuknya muraah banget..ini yang ga ada di negara lain, semua ada dan murah,cuma di Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba mirip negeri dongeng gitu. Ada wahana kereta kencananya juga

      Hapus
  2. Jadi pengen ke bandung lagi. Udah lama gak kesana juga. Paling happy kalau jalan ke alam terbuka gini. Apalagi kalau bawa anak-anak.

    BalasHapus
  3. Jadi pengen liburan baca ini, aku belum pernah benar-benar keliling bandung mba. Paling cuma sekedar lewat dan mampir sebentar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuuu keliling Bandung mba. Bandung itu indah.. hehehe

      Hapus
  4. Maasya Allah, jadi pingin ke Bandung lagi, nih.. .Terakhir Januari kemarin. Bandung bagi saya kota sejuta kenangan, baik suka maupun duka. Ah, jadi kangen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa umm,. Aku juga enam tahun merantau di Bandung, suka duka ku ada disana..

      Hapus
  5. Seger dan rindang bangeet ya mbaa keliatannyaa, walaupun bisa dihitung jari ke Bandung berapa kali tapi selalu ngangeniin, 😊

    BalasHapus
  6. Masya Allah seger banget ijo2 gitu ya mba, kpan2 klo bsa ke bandung lgi bsa nih mampir ksana

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya dan terima kasih sudah membaca.

Postingan populer dari blog ini

Liburan Yang Paling Berkesan Dan Menyenangkan

Pejuang Amplop Cokelat