Pengalaman Pertamaku Ke Jawa Timur
Jawa Timur adalah sebuah provinsi di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Ibu kotanya terletak di Surabaya. Luas wilayahnya 47.922 km², dan jumlah penduduknya 39.698.631 jiwa. (Sumber : wikipedia).
Pada postingan blogku kali ini, aku akan sharing atau bercerita tentang pengalamanku sewaktu aku melakukan aktivitas perjalanan ke Jawa Timur empat tahun yang lalu. Empat tahun yang lalu, aku pernah pergi ke dua kota di Jawa Timur yang nama kotanya mungkin sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita.
Bulan April 2016, saat itu aku mendapat cuti kerja selama 10 hari dari tempat kerjaku. Biasanya setiap cuti kerja, aku selalu memanfaatkannya untuk pulang ke kampung halamanku di Indramayu. Namun pada saat itu, dua minggu sebelum cuti, ada salah satu temanku yang mengajakku untuk pergi ke Jawa Timur. Dia mengajakku pergi ke Malang, Jawa Timur dengan tujuan bersilaturahmi ke rumah temannya. Berhubung waktunya bersamaan dengan waktu cutiku, jadi dia mencoba untuk mengajakku kesana. Aku pun menerima ajakannya. Ini bisa di bilang dadakan sih. Karena dia mengajaknya dua minggu menjelang aku cuti.
Ketika aku libur kerja, aku dan temanku datang ke Stasiun Kiaracondong Bandung untuk membeli tiket kereta api. Kami berencana akan menggunakan jasa transportasi kereta api untuk perjalanan kami ke Jawa Timur. Kereta api yang akan kami gunakan adalah kereta api Malabar. Kami berangkat dari Stasiun Kiaracondong, Bandung.
Waktu cuti kerjaku telah tiba. Dengan demikian jadwal keberangkatan aku dan temanku ke Malang, juga telah tiba.
Waktu keberangkatan kereta api yang akan kami gunakan untuk perjalanan ke Malang pada saat itu, jadwal keberangkatannya adalah jam lima sore. Jarak dari kosanku ke Stasiun Kiaracondong Bandung adalah sekitar 27 km. Waktu tempuhnya kalau naik kereta lokal Bandung Raya sekitar satu jam kurang. Dan kalau naik kendaraan umum selain kereta, bisa lebih cepat, bisa juga lebih lama. Tidak bisa di prediksi, tergantung dari bagaimana situasi dan kondisi arus lalu lintas di jalan yang di laluinya, dan tergantung juga dari lama atau tidaknya mengetem. Hehehe.
Waktu itu, dari kosanku aku berangkat jam setengah tiga sore. Dari Cipasir, Rancaekek aku naik angkot jurusan Cileunyi-Cicalengka. Saat itu penumpang di dalam angkotnya hanya ada aku seorang, sehingga angkotnya sering ngetem di beberapa titik dan jalannya merayap, padahal kondisi arus lalu lintasnya lancar, tidak macet. Di tambah lagi angkot yang aku tumpangi pada saat itu, ketika akan menuju kawasan Cicalengka, lewatnya jalan ke Warung Lahang. Biasanya angkot jurusan Cileunyi-Cicalengka ketika hendak menuju kawasan Cicalengka, jalannya lewat Bunderan Paramon. Warung Lahang dengan Bunderan Paramon lebih jauh Warung Lahang. Dengan demikian, aku pun lebih lama nyampe di Stasiunnya. Saat aku tanya ke si aa sopirnya. "A, kenapa tidak lewat Bunderan Paramon aja? Lewat Warung Lahang kan lebih jauh. Aku lagi buru-buru nih a, ngejar kereta. Keretanya jam lima sore". Si aa nya menjawab "santai saja neng, ini sudah masuk daerah Cicalengka kok, bentar lagi nyampe stasiun. Jam limanya juga masih lama kok". Hm, mungkin dia kira aku akan naik kereta lokal jam lima sore. Akhirnya aku ngomong lagi "Sebelum jam lima sore, aku harus sudah sampai di Stasiun Kiaracondong a. Aku mau ke Jawa". Terus si aanya menyahut "iya neng bentar lagi nyampe". Aku sabar saja. Aku tiada henti memandangi jam tanganku. Jarum jam terus berjalan, namun angkotnya masih bertahan berjalan dengan kecepatan yang rendah dan sering ngetem. Memang resiko naik angkot jurusan manapun, kalau di dalam angkotnya sepi penumpang, kita harus siap sabar jika angkotnya banyak ngetem dan sampai ke tempat tujuannya lebih lama.
Jam tiga sore, angkot yang aku tumpangi baru sampai di depan gang stasiun. Turun dari angkot, aku memasuki gang tersebut, aku berjalan kaki dengan gesit menyusuri jalan gang yang tidak lebar, jalan yang hanya bisa di lalui oleh sepeda motor dan pejalan kaki. Namun untuk sepeda motor tidak bisa berpapasan, kalau saat ada sepeda motor yang melintas dari dua arah yang berlawanan di jalan gang tersebut, salah satunya harus mengalah untuk minggir sebentar sampai sepeda motor yang dari arah berlawanannya sudah melaju.
Jam tiga sore lebih lima menit, aku telah sampai di Stasiun Cicalengka. Ketika aku sampai, kereta api lokal Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang yang akan aku gunakan untuk menuju Stasiun Kiaracondong baru saja berangkat. Dalam hatiku berkata "Yah aku ketinggalan kereta lokal". Otomatis aku harus menunggu kedatangan kereta yang berikutnya. Saat itu aku galau, mau balik lagi naik angkot, takut lama nyampenya. Mau naik damri juga, harus naik angkot dulu dari Cicalengka ke Cileunyi, belum lagi kalau damrinya datangnya lama. Duh galau banget sih. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu kedatangan kereta yang berikutnya saja. Kereta berikutnya datang sekitar lima belas menit setelah keberangkatan kereta yang sebelumnya. Sebelum keretanya datang, aku memesan tiket kereta terlebih dahulu di loket tiket.
Begitu keretanya datang, aku langsung masuk ke gerbong. Aku duduk di kursi dekat pintu toilet. Maksud hati supaya ketika mau turun, tidak harus mengantri. Hehehe.
Kereta api lokal Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang telah sampai di Stasiun Gedebage. Disitu keretanya berhenti lumayan lama, karena akan ada kereta jarak jauh yang akan melintas. Setahuku, setiap kali kereta lokal melintas, ketika sampai di jalur itu, dan di saat yang bersamaan ada kereta jarak jauh yang akan melintas, kereta lokal harus mengalah untuk berhenti sampai kereta jarak jauhnya telah melintas di jalur tersebut. Entah karena apa? aku tidak tahu pasti sih. Tapi kalau tidak salah sih katanya karena jalurnya gantian, jadi kereta dari dua arah tidak bisa berpapasan. Duh makin lama saja nih nyampe di Stasiun Kiaracondongnya. Dari Stasiun Gedebage ke Stasiun Kiaracondong jaraknya kurang lebih sekitar 11 km. Duh masih lumayan jauh ya? Hehehe.
Temanku yang sudah sampai di Stasiun Kiaracondong lebih awal, tiada henti menghubungiku. Menanyakan aku sudah sampai mana? Karena kereta Malabar yang akan kami gunakan untuk perjalanan ke Malang sebentar lagi akan tiba di Stasiun Kiaracondong. Pikiranku semakin enggak karuan. Hingga aku sempat mau turun dari kereta lokal itu, tapi disitu aku melihat di luar bukan pas di Stasiunnya, tidak ada bangunan apa-apa. Yang aku lihat hanya ada pohon, dan aku melihat ke bawah hanya ada rel kereta. Aku mencoba bertanya pada salah satu penumpang, aku bertanya pada seorang ibu. "Bu, maaf ini sudah sampai mana ya?". Tanyaku. Si ibu menjawab "Gedebage neng". "Ini kenapa keretanya berhenti lama ya bu?". Aku kembali bertanya. "Ada kereta yang mau lewat neng. Enggak bisa barengan lewatnya, jadi salah satunya harus berhenti dulu". Jawab si ibu. "Oh begitu ya bu. Kira-kira masih lama enggak ya bu berhentinya?". Tanyaku kembali. "Tidak tahu neng". Jawab si ibu kembali. "Oh, terima kasih ya bu". Aku mengucapkan terima kasih kepada si ibu yang telah memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku.
Sekitar lima menit lagi kereta Malabar akan berangkat, aku baru sampai di Stasiun Kiaracondong. Sebelum turun, aku bertanya pada security yang bertugas di dalam kereta lokal itu, "pa, aku mau naik kereta Malabar, bisa enggak aku enggak harus keluar dulu dari pintu stasiun ini? Bisa enggak aku langsung lewat jalur ini saja?". Tanyaku. "Bisa neng, bisa neng, ayo buruan itu keretanya sebentar lagi mau berangkat. Ayo lewat sini, lewat sini". Jawab security itu dengan sangat terburu-buru sambil tangannya menunjuk ke jalur rel kereta. Aku langsung loncat dari kereta lokal. Terus aku lari-lari di rel kereta itu. Aku melihat dari arah Stasiun Bandung, ada kereta yang akan melintas. Memang terlihat masih jauh, tapi lampunya sudah kelihatan menyorot dan bunyi suara klakson keretanya sudah terdengar jelas olehku. Aku lari-lari dengan hati yang dag dig dug ser dan dengan mata yang terus menatap ke depan melihat kereta dari arah Stasiun Bandung yang terus melaju dan terus membunyikan klaksonnya. Duh sudah serasa perjuangan antara hidup dan mati. Hehehe..
Sekitar tiga menit lagi, kereta Malabar akan berangkat. Aku baru tiba di jalur khusus kereta jarak jauh. Aku langsung masuk ke dalam gerbong kereta Malabar, eh aku lupa aku belum check in dan tiketku di pegang oleh temanku. Aku pun keluar lagi dari kereta itu, kemudian aku bertanya pada security yang berdiri di peron. "Check in dimana ya?". Aku ditanya kembali oleh securitynya, "mau naik kereta apa neng?". Aku jawab "Malabar". Terus Security bertanya padaku dengan sangat terburu-buru "mana tiketnya? Mana tiketnya? KTP mana KTP? Sini biar sama saya saja check innya". Aku bilang "tiketnya ada sama teman". Jawabku. "Waduh gimana neng? Mana temannya mana temannya?". Tanya security itu. Aku tengok kanan kiri dan tengok depan belakang mencari temanku. Seketika aku melihat perempuan berbaju kuning soft berdiri diantara orang-orang yang sepertinya akan check in untuk keberangkatan kereta berikutnya. Dan aku melihat perempuan berbaju kuning soft itu adalah temanku. Aku langsung teriak sambil menunjuk ke depan "itu bu itu temanku yang memakai baju kuning soft itu yang berdiri disitu". Security itu langsung berlari mengarah ke temanku dengan membawa KTP milikku di tangannya. Aku mengikutinya di belakang. Mungkin temanku melihatku, temanku langsung menghampiriku. Kemudian security itu meminta KTP temanku dan meminta tiket, temanku memberikannya. Security itu bergegas lari begitu cepat, beliau check inin tiket aku dan temanku. Kemudian beliau kembali menghampiri kami berdua. Terus beliau mengembalikan KTP kepada kami berdua. Kemudian beliau berkata "Ayo, ayo cepat masuk kereta, ayo". Kami berdua langsung berlarian menuju kereta, dan ibu security mengikuti di belakang kami. Begitu kami baru saja sampai di dalam kereta, dari dalam kereta terdengar suara peluit di tiup oleh petugas, yang menandakan kereta harus berangkat. Security menutup pintu kereta. Di saat yang bersamaan juga aku mendengar suara klakson kereta di bunyikan. Kereta sudah berjalan, kami berdua masih sibuk mencari tempat duduk. Ya Allah rempong amat ya, hahaha. Ngomong-ngomong, ibu security yang membantu aku dan temanku check in, Masyaa Allah banget ya. Hehehe.
Sebetulnya aku berangkat dari kosan tidak terlalu mepet sih waktunya. Hanya saja ada kendala ketika hendak menuju Stasiunnya. Hehehe. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan siapapun atas keterlambatanku datang di Stasiun Kiaracondong waktu itu. Hehehe. Jadikan sebagai pelajaran saja untuk ke depannya.
Keesokan harinya, sekitar pukul 16:20 WIB, aku dan temanku telah tiba di kota Malang, Jawa Timur.
Selama di Malang, kami berdua tidak kemana-mana. Hanya diam di rumah temannya temanku saja.
Dua hari sudah aku dan temanku berada di Malang, Jawa Timur. Kami pun pamit dan berterima kasih kepada keluarga dari temannya, temanku.
Setelah dari Malang, kami tidak langsung pulang ke Bandung. Loh mau kemana lagi? Mau ke Bromo? Atau mau wisata pantai di Malang? Hmm pengennya sih begitu, akan tetapi pada saat itu budget kami berdua tidak mendukung untuk berwisata ke tempat-tempat kece yang instagramable di Malang. Hehehe. Setelah dari Malang, kami berdua memutuskan untuk silaturahmi ke Kediri. Sebetulnya sih awalnya tidak ada niat atau planning ke Kediri, tapi berhubung kami sedang di Jawa Timur, dan memiliki waktu luang yang cukup, serta kami juga punya kenalan di Kediri. Jadi tidak ada salahnya kalau kami juga menyambangi orang yang kami kenal di Kediri. Hehehe.
Saat kami berdua telah sampai di Stasiun Kediri, kami kebingungan mencari transportasi umum (angkot) di sekitar Stasiun. Yang kami cari angkot, tapi yang kami temukan hanyalah banyaknya tukang beca yang sedang mangkal di sekitar Stasiun. Di stasiun kami diam sejenak googling-googling mencari penginapan di Kediri yang sekiranya aman dan nyaman. Setelah kami berdua mencari informasi di google, tret kami menemukan "Hotel Bismo" yang menurut review dari google sih konon katanya recomended. Oke, kami berdua mendatangi Hotel Bismo. Karena kami bingung mau naik apa? Daripada nyasar enggak karuan, jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Ketika kami menemukan beberapa arah jalan, kami bingung arah mana yang harus kami ambil? Di sekitar situ ada warung. Kami bertanya pada ibu warung, kami menanyakan arah ke Hotel Bismo. Ibu warung pun menunjukkannya. Kami mengucapkan terima kasih kepada beliau. Kemudian kami meninggalkan warung tersebut dan kami langsung menuju Hotel Bismo. Dari sekitar Stasiun Kediri ke Hotel Bismo itu jaraknya seingat aku sih kurang lebih 1,4 km. Kami jalan kaki menyusuri trotoar sambil menikmati suasana jalan raya yang sepi. Rasanya enak banget, adem, tidak ada polusi udara. Ketika kami berdua tengah asik berjalan kaki di trotoar dan melihat ke samping kiri jalan, terdapat banyak ruko dan penginapan kelas kalangan menengah ke atas. Tiba-tiba ada anjing yang berhenti tepat di depan kami. Anjing tersebut memandangi kami, aku yang takut sama anjing, langsung pegangin tangan temanku. Kemudian temanku berkata "tidak apa-apa, itu anjingnya tidak galak". Mau galak mau enggak, kalau sudah takut ya takut saja. Efek masa kecilku sering di kejar-kejar anjing galak. Hehehe. Alhamdulillah anjing yang berhenti di depan kami berdua tidak galak, dan alhamdulillah anjingnya tidak mengikuti kami berdua. Hehehe.
Kami berdua telah sampai di Hotel Bismo.
Sesampainya kami di Hotel Bismo, kami langsung menuju receptionist. Temanku bertanya kepada mbak receptionistnya "apakah ada kamar kosong untuk hari ini?". Mbak receptionistnya menjawab "untuk sekarang belum ada, tapi mungkin nanti agak siangan ada. Karena nanti siang akan ada tamu yang check out, dan bisa check in jam dua siang".
Kami bingung akan kemana? Di Hotel Bismo, kami diam sejenak mencari informasi penginapan yang masih ada kamar kosong untuk hari ini. Kali ini giliran aku yang mencari di google. Setelah scroll scroll, ahaaa akhirnya aku menemukan penginapan yang masih tersedia kamar kosong dan budgetnya murah. Rp. 85.000/malamnya. Berdua, berarti masing-masing patungan sebesar Rp. 42.500. Wah murah banget ya. Aku dan temanku sepakat ambil penginapan itu.
Dari Hotel Bismo ke penginapan yang aku temukan tadi, jaraknya kurang lebih sekitar 2 km. Kalau harus berjalan kaki lagi, rasanya kami tidak sanggup. Akhirnya kami memutuskan untuk naik beca. Berdua naik beca, kami membayar tarif becanya sebesar Rp. 20.000. Bisa di bilang murah sih, masing-masing dari kita patungan uang sebesar Rp.10.000 saja.
Kami berdua telah sampai di penginapan yang aku temukan di google tadi. Nama penginapannya tidak akan aku sebutkan disini, karena no recomended. Aku sebutkan cluenya saja ya, lokasinya di pusat kota Kediri dan tidak jauh dari Mall Sri Ratu. Padahal penginapan itu lokasinya di pusat kota, tapi bangunannya sudah tua seperti tak terurus. Ketika masuk ke dalam, masih di sekitar lobynya sih masih aman lah ya, masih terang, enggak gelap.
Setelah kami membayar sewa kamar, kami di antar oleh petugas penginapan. Kami di antar ke kamar yang akan kami tempati untuk istirahat malam ini. Kamar kami di atas di lantai dua. Suasananya sunyi banget dan mencekam, di tambah lagi tangganya juga tinggi, anak tangganya banyak dan bentuk anak tangganya meliuk-liuk. Di kamar yang kami tempati pun tidak ada pentilasi udara. Jendela tidak bisa di buka karena terhalang oleh lemari. Kipas angin di kamar tidak berfungsi dengan baik. Di kamar mandi, tidak ada bak mandi ataupun ember untuk tempat air. Cuma ada bethup, WC, dan gayung saja. Suasana kamarnya sangat mencekam pokoknya. Gelap dan agak eungap. Hehehe. Temanku bilang tempatnya sangat cocok untuk di jadikan sebagai tempat shooting film horror. Hehehe. Karena jujur penginapannya seperti tak terurus dan di penginapan juga aku menjumpai banyak debu dimana-mana.
Kami janjian ketemuan dengan orang yang kami kenal di Kediri sekitar jam lima sore. Karena mereka bisanya jam segitu, mereka jemput kami di penginapan. Orang yang kami kenal di Kediri adalah mbak Ria namanya.
Jam empat sore, kami sudah siap semua. Kami keluar kamar. Di loby penginapan kami melihat banyak tamu laki-laki. Semuanya laki-laki. Ternyata saat itu di penginapan tersebut tamu perempuannya hanya ada aku dan temanku saja. Waduh ngeri juga ya.
Ketika kami keluar kamar, kami di tanya oleh mereka para tamu laki-laki yang sedang pada duduk di kursi yang tersedia di loby penginapan. Kami pun menjawab. Ketika kami duduk di kursi yang ada di teras depan, ada salah satu laki-laki yang menghampiri kami. Dia nanya-nanya pada kami. Nanya basa basi gitu sih. Selama dia masih sopan, kami jawab.
Aku dan temanku benar-benar merasa tidak nyaman berada di penginapan tersebut. Rasa ingin pindah, tapi pindah kemana? Karena penginapan yang masih kosong, harganya mahal semua. Budget kami tidak cukup. Hehehe. Akhirnya kami pasrah saja, diam disitu. Hehehe.
Tiba-tiba handphone temanku berdering, rupanya ada telefon. Di lihatnya dari nomer yang tidak di kenal. Ternyata yang telefon itu pihak Hotel Bismo. Mereka menanyakan masih butuh kamar kosong atau tidak? Temanku menjawab "tidak, kami sudah mendapat penginapan". Padahal kami merasa tidak nyaman berada di penginapan yang sudah kami sewa, dan rasanya ingin pindah. Tapi begitu ada telefon dari pihak Hotel Bismo dan mereka menawarkan kamar kosong, kami menolaknya begitu saja. Padahal budget kami kalau untuk menginap di Hotel Bismo masih cukup.
Jam lima sore, mbak Ria menjemput kami di penginapan. Mbak Ria bersama suami, Ibu, Anak, dan Adiknya. Kami di jemput dengan menggunakan mobil pribadi milik mbak Ria.
Mbak Ria mengajak kami jalan-jalan malam ke Simpang Lima Gumul, Kediri. Namun sebelum ke Gumul, terlebih dahulu kami di ajak ke Masjid untuk melaksanakan ibadah shalat maghrib, kemudian kami di ajak makan di salah satu kedai makanan seafood yang ada di Kediri. Setelah itu kami di ajak ke Simpang Lima Gumul.
Tak terasa, kami telah sampai di Simpang Lima Gumul, Kediri. Bangunan Simpang Lima Gumul ini mirip menyerupai seperti salah satu bangunan yang terkenal di Paris.
Ini adalah anaknya mbak Ria, namanya ello. Foto ini, aku yang motoin dan ini lokasinya di Simpang Lima Gumul Kediri.
Di Simpang Lima Gumul, kami foto-foto, terus duduk-duduk sambil ngobrol-ngobrol.
Disana juga kami keliling ke terowongan Simpang Lima Gumul dan taman Simpang Lima Gumul.
Setelah keliling-keliling, kami pulang. Mbak Ria mengantar aku dan temanku kembali ke penginapan. Namun ketika di tengah perjalanan, mbak Ria menawarkan aku dan temanku untuk menginap di rumahnya. Karena sebelumnya temanku cerita sama mbak Ria tentang suasana penginapan yang kami sewa. Begitu mbak Ria menawarkan kepada kami untuk menginap di rumahnya, kami menerima tawaran mbak Ria. Karena kami merasa takut jika harus bermalam di penginapan yang kami sewa. Hehehe. Ya Allah enggak modal banget ya.. Hehehe.
Yang kami bayangkan, penginapan yang kami sewa itu sama seperti penginapan-penginapan lain yang budgetnya murah. Tapi realitanya, jauh dari ekspektasi. Hehehe.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami di hibur oleh mas Dendra. Tepat jam enam pagi, setelah kami sarapan, mas Dendra bermain keyboard. Mas Dendra itu suaminya mbak Ria dan dia sangat jago dalam memainkan alat musik keyboard.
Selama kami menginap di rumah mbak Ria, soal urusan makan dan minum kami di tanggung oleh mbak Ria. Masyaa Allah di Kediri pun kami menemukan orang baik.
Kurang lebih lima hari aku dan temanku berada di Jawa Timur. Dua hari di Malang dan tiga hari di Kediri.
Di hari kelima, kami pamit pulang ke Bandung. Karena rasanya tidak enak jika berlama-lama merepotkan orang lain. Kami di antar ke Stasiun Kediri oleh mbak Ria dan suaminya. Pulang ke Bandung tak sedrama berangkat ke Jawa Timur. Hahaha.
Sebelum masuk ke Stasiun, kami di ajak makan bakso di dekat Stasiun oleh mbak Ria dan suaminya. Setelah makan bakso, kami langsung ke Stasiun untuk cetak tiket.
Ketika kami datang ke Stasiun Kediri, keretanya sudah datang. Tapi pintu keretanya belum di buka. Sebelum masuk kereta, kami cetak tiket terlebih dahulu. Setelah itu kami menunggu sebentar, kemudian kami check in, lalu masuk ke gerbong. Pulang ke Bandung, kami menggunakan kereta api Kahuripan jurusan Kediri-Bandung. Kami mendapat gerbong di belakang gerbong masinis. Dari kediri, kami berangkat sekitar jam satu siang. Waktu tempuh perjalanannya kurang lebih sekitar 13 jam perjalanan. Selama perjalanan pulang ke Bandung, di kereta, kami lebih sering tidur. Mungkin karena lelah. Hehehe.
Sekitar jam setengah empat pagi, kereta api yang kami tumpangi telah sampai di Stasiun Kiaracondong, Bandung. Alhamdulillah kami sampai Bandung kembali dengan selamat.
Begitu sampai di Bandung, temanku langsung pulang ke rumahnya. Karena papahnya sudah menunggu di depan Stasiun. Ya, temanku di jemput oleh papahnya. Sementara aku menunggu di stasiun hingga jam lima pagi. Karena tidak berani pulang ke Rancaekek sendirian naik kereta lokal di bawah jam lima pagi. Hehehe.
Pukul 06.00 WIB, aku telah sampai di Rancaekek kembali. Alhamdulillah aku bisa kembali ke Rancaekek dengan selamat. Oh iya, perjalananku ke Jawa Timur, ini adalah pengalaman pertamaku. Dan bagi aku, menggunakan transportasi kereta api jarak jauh adalah pengalaman pertamaku juga. Hehehe..
Banyak pelajaran yang aku dapatkan dari perjalananku ke Jawa Timur :
1. Kalau mau naik kereta, berangkatnya jangan mepet. Minimal tiga jam atau dua jam sebelum jadwal keberangkatan, harus sudah berangkat menuju stasiun. (Jika jarak dari tempat tinggal ke Stasiunnya jauh).
2. Jika berangkatnya sudah dari jauh-jauh waktu sebelum jadwal keberangkatan, dan kalau naik transportasi umum. Pilih transportasi umum yang sekiranya tidak menghambat waktu. Semisal naik angkot, kalau angkotnya banyak ngetem dan jalannya lambat banget, tidak ada salahnya untuk pindah atau cari angkot lain yang penumpangnya agak banyak.
3. Walaupun berangkatnya sama teman, tiket kereta yang sudah di cetak, sebaiknya di pegang sendiri.
4. Merencanakan perjalanan keluar kota jangan terlalu dadakan, agar segala sesuatunya benar-benar di preaper dengan baik.
5. Ketika hendak merencanakan pergi keluar kota, disarankan untuk booking penginapan terlebih dahulu. Ya, cari penginapannya jangan dadakan di hari H nya.
6. Jangan mencari penginapan yang asal murah, tapi perlu di perhatikan juga perihal keamanan dan kenyamanannya, juga kebersihannya.
7. Jangan lupa untuk selalu menyiapkan dana darurat. Untuk jaga-jaga barangkali ada pengeluran yang tak terduga.






Betul banget tips nya Mba, pernah punya pengalaman kalau berangkat mepet waktunya yang ada sepanjang jalan deg-degan terus. Untung ya kami ga ketinggalan pesawat, tapi udah batas limit.
BalasHapusIyaa banget mbak
HapusAku blum prnah ke kediri noh mba, pling klo ke jatim ya ke malang batu ma gresik aja, hehehe
BalasHapusWaaah orang Malang kah mbak?
HapusAku dulu sering nih mepet kalau naik kereta wkwk
BalasHapusUdah buru-buru eh keretanya nggak langsung jalan, ada kendala teknis
Aku sekarang trauma mbak, kalau mau naik kereta berangkatnya buru2... Hehehe
HapusAku termasuk orang yang suka mepet kalau berangkat kemanapun, wkwkw. Tapi alhamdulillah belum pernah kalau sampai tertinggal kereta.
BalasHapusSetujuu kalau pilih tempat penginapan selain harga tapi harus memperhatikan keamanan dan kenyamanannya.
Seru ya quality time sama keluarga. Dulu aku pernah nyaris ketinggalan kereta.. astagah lari2 capekk
BalasHapus